Milkcheese Strawberry: Manis, Creamy, dan Bikin Nagih!


Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda. Selain ibadah yang lebih khusyuk, momen berbuka puasa juga jadi saat yang paling dinantikan. Dan di momen spesial ini, aku memutuskan untuk kembali menjual takjil kecil-kecilan di rumah seperti Ramadhan 2022 lalu.

Kenalin, Milkcheese Strawberry! Takjil manis dan creamy yang siap jadi teman berbuka puasa kamu. Sesuai namanya, Milkcheese Strawberry ini memadukan segarnya susu UHT 100% fresh milk, susu kental manis Indom**k, dan keju Cheddar. Kebayang kan, gimana creamy dan legitnya?

Untuk isian, ada Nutri*el Strawberry yang kenyal dan manis, Nata de Coco yang bikin sensasi kriuk asyik, dan selai Strawberry segar yang bikin sensasi seolah lagi nikmatin cheese cake strawberry tapi versi minuman.

Harga per cup-nya cuma Rp. 15.000 aja, kok! Bisa banget jadi teman manis berbuka yang nggak bikin kantong bolong.

Aku nggak buka lapak atau jualan di pasar "Pabukoan". Semua orderan dilakukan via DM Instagram atau WhatsApp, dan nanti aku sendiri yang akan antar langsung ke rumah costumer kalau lokasinya masih di sekitaran Painan. Pengantaran setiap hari jam 16.30 WIB, jadi pas banget buat persiapan buka puasa.

Ramadhan buatku selalu jadi bulan yang penuh cerita. Menjual takjil seperti Milkcheese Strawberry ini bukan sekadar mencari tambahan penghasilan, tapi juga bentuk kesenangan kecilku melihat orang-orang menikmati takjil buatanku. Rasanya senang banget saat ada yang bilang, "Kak, takjilnya enak banget!" atau ada yang repeat order buat keluarganya. Aku percaya, berbagi kebahagiaan di bulan Ramadhan itu punya keistimewaan tersendiri.

Ada rasa nostalgia juga, sih. Ramadhan 2022 lalu, saat pertama kali aku jualan Milkcheese Strawberry, itu momen aku nekat coba-coba. Resep ini aku dapat dari seorang teman, aku cobain dan tes rasa sampai dapat rasa yang pas. Terus iseng aku share di WhatsApp Story dan Instagram, eh ternyata banyak yang tertarik! Dari situ mulai deh orderan berdatangan, dan jadi pengalaman yang seru banget.

Tahun ini aku memutuskan untuk jualan lagi karena banyak yang nanyain, bahkan ada yang bilang sudah kangen sama Milkcheese Strawberry-ku. Makanya, walaupun cuma jualan dari rumah dan mengantarkan sendiri, aku tetap semangat. Buatku, bisa melihat senyum orang-orang yang menikmati Milkcheese Strawberry adalah kebahagiaan tersendiri.

Jadi, kalau kamu butuh takjil yang manis, creamy, dan segar untuk berbuka puasa, langsung aja pesan. Pengantaran hanya untuk sekitaran Kota Painan, setiap hari jam 16.30 WIB. Yuk, buat buka puasamu lebih spesial dengan Milkcheese Strawberry!

#MilkcheeseStrawberry #TakjilRamadhan #TakjilKekinian #CemilanBukaPuasa #Painan

MENULIS DI RAMADHAN: SEBUAH PERCAKAPAN DENGAN DIRI SENDIRI

 

Sudah masuk Episode kedua Bulan Ramadhan. Dalam setiap fasenya, Ramadhan selalu punya cara untuk membawa kita kembali ke dalam diri sendiri. Bulan ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang merawat hati, menenangkan pikiran, dan menemukan makna di setiap detik yang berjalan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, Ramadhan datang seperti jeda yang menenangkan. Ada sesuatu yang berbeda dalam ritmenya, lebih pelan, lebih dalam, dan lebih reflektif. Puasa tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga memberi kesempatan bagi jiwa untuk beristirahat. Saat perut kosong, hati terasa lebih peka. Ketika kita mengurangi distraksi duniawi, ada lebih banyak ruang untuk merenung.

Healing bukan selalu tentang bepergian ke tempat-tempat indah atau melakukan self-care dengan cara-cara kekinian. Healing juga bisa terjadi dalam keheningan sahur, dalam sholat malam yang khusyuk, atau dalam dzikir yang mengalir pelan di antara detik-detik menjelang berbuka. Dan tentu saja, juga dalam tulisan-tulisan yang kita buat sebagai bentuk refleksi diri.

Menulis sering kali jadi cara terbaik untuk berdialog dan mengenal diri sendiri. Jika membaca mengasah otak, maka menulis adalah jalan bagi jiwa kita untuk menemukan bentuknya sendiri. Tulisan yang kita buat adalah peta perjalanan, karena di sanalah kita menemukan siapa diri kita. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita katakan dengan suara, tetapi bisa kita bisikan lewat tulisan. Menulis membukakan pintu ke dalam diri kita sendiri. Menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi tentang merawat ingatan. Menulis bukan soal menjadi hebat, tapi tentang menjadi jujur. Dan Ramadhan, dengan segala ketenangannya, menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan menuliskan apa yang kita rasakan.

Menulis tak hanya tentang membuat narasi ratusan kata. Kita bisa saja menulis tentang tentang rasa syukur yang selama ini jarang disadari, tentang harapan yang ingin dipanjatkan, atau sekadar mencatat dan menceklis perubahan kecil dalam diri kita lewat jurnal Ramadhan yang kita print. Tantangannya, tentu saja, adalah menjaga konsistensi. Di tengah jadwal yang berubah selama Ramadhan, menyisihkan waktu untuk menulis bisa jadi terasa sulit. Tapi sebenarnya, justru dalam keterbatasan itulah tulisan bisa menjadi lebih jujur dan penuh makna. Tidak perlu sempurna, yang penting ada.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan yang sangat personal. Setiap orang punya cara sendiri untuk mengisinya, tapi jika ada satu hal yang bisa membuatnya lebih bermakna, mungkin itu adalah menulis. Dengan menulis, kita bisa merekam perasaan, mencatat doa-doa yang terucap dalam hati, dan menemukan perubahan diri sekecil apa pun.

Jadi, bagaimana kalau tahun ini kita coba menulis lebih banyak selama Ramadhan? Tidak perlu muluk-muluk. Cukup selembar catatan kecil setiap hari. Sebuah jurnal yang mungkin suatu hari akan kita baca kembali, lalu tersenyum, dan berkata, "Ramadhan tahun ini berlalu dengan indah, dan saya pernah merasakannya dengan sepenuh hati."

#INDONESIAGELAP DAN #KABURAJADULU

 

instagram.com/bbcindonesia

Sejak Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 17 Februari 2025 hingga Rabu, 19 Februari 2025 lalu, tagar #IndonesiaGelap menggema di seluruh jagat maya. Tagar ini tak sekedar ungkapan viral, namun menjadi tema unjuk rasa menyuarakan kegelisahan akan masa depan bangsa dan menuntut pertanggungjawaban presiden Prabawo Subianto atas seluruh kebijakannya yang tak berpihak pada rakyat.

Sebelumnya juga ada tagar #KaburAjaDulu yang sudah mulai digaungkan sejak Januari lalu. Tagar yang menyuarakan keresahan anak bangsa atas sulitnya mendapat penghidupan yang layak di negeri sendiri. Tagar ini menjadi bentuk satire kekecewaan dan kemarahan atas pendidikan berkualitas yang mahal, kurangnya lapangan kerja dan rendahnya gaji di Indonesia.

Dua tagar yang viral ini mengungkapkan keresahan, kekecewaan, kemarahan, keputusasaan dan protes anak bangsa akan kebijakan yang amburadul di negeri ini.

Sebagai Ibu rumah tangga dan pendidik, saya tentu saja tak mau tutup mata dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Agar tak lupa, saya ikut ”berisik” dengan mengabadikan rentetannya di sini.

Seperti yang kita ketahui bersama, kebijakan (yang tidak bijak) presiden Prabowo tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai sejak 6 Januari 2025. Namun kebijakan ini dinilai oleh lembaga riset ekonomi dan hukum, Celios, sebagai kebijakan yang boros dan tidak tepat sasaran. BGN (Badan Gizi Nasional) menyebutkan anggaran Makan Bergizi Gratis mencapai Rp 1,2 Triliun Per Hari, kalikan saja jika sebulan, setahun atau lima tahun. Dan contoh tak tepat sasarannya tak usah jauh-jauh. Di kota kecil kami, Sekolah Dasar yang mendapatkan jatah MBG adalah sekolah dasar di “pusat kota” yang peserta didiknya notabene adalah anak-anak pegawai dan pejabat yang terbiasa kenyang dengan makan enak. Sedangkan sekolah yang agak “kepinggiran” masih belum kebagian.

instagram.com/bbcindonesia

Tanggal 20 Januari 2025, KontraS, LSM HAM, menerbitkan laporan kekebalan hukum pada 100 hari kepemimpinan Prabowo-Gibran. 

22 Januari 2025, Presiden mengesahkan Inpres nomor 1 tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Tentu saja banyak kementerian yang terkena penyusutan. Namun mirisnya Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan juga ditargetkan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah disunat Rp. 8 triliun, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi dipangkas Rp. 22,54 Triliun, dan anggaran Kementerian Kesehatan dipotong Rp. 19,63 triliun. Tahu sendiri kan, apa yang akan terjadi jika anggaran pendidikan dan kesehatan yang tidak pernah cukup itu dipangkas juga? huuuuufff..

4 februari 2025, kebijakan baru dibuat lagi. DPR mengesahkan RUU BUMN yang memuat soal Danantara. Lembaga pengelola investasi milik negara yang katanya akan mengelola Rp. 1400 triliun uang negara. 4 kali lebih besar dari APBN Indonesia tahun 2025.

18 Februari 2025, UU Minerba disahkan DPR. Ya memang terkesan tergesa. Dihari yang sama, DPR bilang kalau mereka akan memproses RUU TNI. Di revisian RUU ini, nggak ada lagi larangan TNI berbisnis, dan TNI bisa kerja dibanyak kementerian dan lembaga. Pasal 47 yang tadinya cuma ngebolehin TNI punya jabatan di 10 kementerian/lembaga, sekarang diusulkan bisa lebih bebas sesuai kebijakan presiden. Dihari yang sama juga, Ribuan pelajar di Papua menggelar aksi masa menolak Makan Bergizi Gratis. Aksi yang dibubarin secara paksa oleh aparat dan menuai banyak pelanggaran HAM.

17-21 Februari 2025, ribuan Mahasiswa dan masyarakat sipil melalukan demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia. Tuntutan mereka? Salah banyaknya : efisiensi Kabinet Merah Putih secara struktural dan teknis, mendesak Prabowo keluarkan Perpu Perampasan Aset, tolak revisi UU TNI, Polri, dan Kejaksaan, evaluasi total pelaksanaan Makan Bergizi Gratis, penciptaan pendidikan gratis, tolak revisi UU Minerba, hapuskan dwifungsi militer di sektor, dan reformasi Polri. Juga menolak revisi peraturan tata tertib DPR, hingga realisasikan anggaran tunjangan kinerja dosen. Lengkapnya di sini

instagram.com/trendingbuzz.id

Hari ini, 24 Februari 2025, Danantara launching. Presiden Prabowo Subianto menandatangani keputusan presiden Nomor 30 Tahun 2025 mengenai pengangkatan Dewan Pengawas dan Badan Pelaksana, Badan Pengelola Investasi ini di Istana Kepresidenan. Sekaligus menekan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kelola BPI Danantara. 

Kalau teman-teman mau tahu lebih mudah dan simplenya tentang Danantara, silahkan tonton di sini ya.

Sebagai ibu rumah tangga, kebijakan-kebijakan yang tak pro rakyat ini tentu saja akan berdampak besar sekali. Baik secara finansial, sosial maupun psikologis. Kenaikan biaya hidup tak akan bisa dihindari. Efisiensi yang menyunat anggaran pendidikan dan kesehatan akan membuat biaya pendidikan dan akses kesehatan lebih mahal lagi.

Dan dengan berkurangnya anggaran untuk pendidikan tinggi, peluang beasiswa bisa menipis dan biaya kuliah makin melambung. Bagi ibu-ibu, yang setiap hari menabung sedikit demi sedikit demi melihat anaknya duduk di bangku kuliah, ini akan jadi “pertarungan” yang panjang dan luar biasa sekali.

instagram.com/pramudyakevin

Pada akhirnya, kebijakan bukan sekadar deretan angka di atas kertas atau wacana yang lalu-lalang di ruang rapat para pejabat. Ia adalah denyut kehidupan yang dirasakan langsung oleh jutaan rakyat, oleh ibu yang mengkhawatirkan masa depan pendidikan anaknya, oleh ayah yang berjuang agar dapur tetap mengepul, oleh generasi muda yang bertanya-tanya apakah negeri ini masih punya tempat untuk mimpi-mimpi mereka.

Jika negara terus melangkah tanpa mendengar suara rakyatnya, akankah kita hanya menjadi saksi bisu yang perlahan terbiasa? Ataukah kita akan tetap bersuara, mengingatkan bahwa keadilan bukan sekadar janji, tapi hak yang seharusnya dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat? 

Sebab, dalam gelap kita menyadari pentingnya menyalakan cahaya.

MELO MOVIE: MENCINTAI, MELEPASKAN, MELANGKAH

 

(instagram.com/netflixid)

Bagi teman-teman yang udah nonton Our Beloved Summer, pasti nggak asing lagi sama aktor “slengek an” satu ini, Choi Woo Shik. 😄

Bagi Army, Woo Shik juga bukan orang asing, ia adalah “keluarga” karena dekat dengan Taehyung BTS di Wooga Squad. Kali ini, Woo Shik jadi tokoh utama dalam serial romcom Melo Movie. Serial 10 episode ini mulai tayang di Netflix 14 februari 2025.

Awalnya saya pikir drama ini ongoing, tapi syukurnya nggak, jadi bisa langsung maraton nonton seharian. Dan apa yang bikin saya betah mantengin drama ini hingga akhir, saya akan cerita sama kalian. Tapi sebelum itu kita bahas dulu pemeran drama ini yaa..

Tokoh utama drama ini Ko Gyeom, manusia yang sangat mencintai film sejak “lahir”. Seorang yang bertekad akan menonton semua film yang dibuat di dunia ini. Suatu hari saat movie time dengan teman-temannya, Gyeom terpikir untuk melakukan sesuatu tentang hobinya itu, yap, dia akan jadi aktor, agar dunia perfilman tak kehilangan sosok berbakat seperti dirinya, namun karirnya mentok menjadi figuran saja. Gyeom ternyata tak seberbakat yang dia kira. Namun Gyeom yang hobi berada di set syuting (karena ada Mubee juga) ternyata punya bakat terpendam lainnya. Kejeliannya menilai dan mengulas film membuatnya menjadi kritikus film yang terkenal. Dia mengelola sebuah blog dan juga menjadi kritikus film sebuah majalah.

Lalu Kim Mubee, ya Mubee, Movie. Nama yang rasanya ingin sekali ia ganti. Saat bertemu Gyeom, Mubee masih kru di lokasi syuting. Namun 5 tahun kemudian, Mubee sudah memproduksi filmnya sendiri, dia sudah jadi sutradara.

(instagram.com/netflixid)

Hong Si Jun. Si pecinta musik yang kabur dari rumah yang “nyaman” demi merawat kecintaannya pada musik. Sosok yang harusnya populer disekolah karena tampan, jago maen musik dan tinggi. Tapi semua item populer yang dia punya itu seketika akan buyar saat dia mulai membuka mulutnya, dia tak bisa mengontrol kata-katanya. 😆. Si jun sebenarnya adalah sosok yang baik dan manis, hanya saja dia tak terbiasa mengungkapkan “kebaikannya”.

Son Ju A, gadis manis tinggi langsing yang selalu membuntuti Si jun sejak dibangku sekolah. Penggemar nomor satu sang pacar. Sosok yang selalu percaya Si Jun akan sukses kelak dengan musiknya.

(instagram.com/netflixid)

Ko Jun, kakak yang tak banyak cakap, yang menempatkan semua keinginan dan ambisinya untuk sang adik. Apa yang membuat adiknya bahagia, maka itulah kebahagiaan Ko Jun. Kakak yang juga berperan sebagai orang tua buat Gyeom.

(instagram.com/netflixid)

Ringan dan realistis

Buat kalian yang suka nonton drakor yang ringan-ringan aja tanpa teori ini teori itu, drama ini bisa jadi pilihan. Mungkin kalau liat judulnya, kita sempat mikir ini drama melow yang akan menguras air mata. Tapi, tidak. Meski nanti akan ada “masanya” kita dibuat termewek-mewek di episode 7 sih. Tapi percayalah, drama ini drama Romcom, Romantic Comedy. Ya Komedi Romantis. Drama ringan yang kadang bikin kita berbunga-bunga, kadang sedih, kadang geli dan kadang kesel, kayak dalam hati itu bilang “duuuh, kok cinta-cintaan bisa seribet ini yaaa...” 😂

(instagram.com/netflixid)

Pokoknya drama ini akan bawa kita naek “roller coaster”. Dibawa merasakan berdebarnya jatuh cinta, sakitnya putus dan rumitnya balikan lagi. Juga ikut merasakan frustasi tentang dua orang yang saling sayang tapi tak mungkin “bersatu” lagi.

Duh, kok saya jadi masuk karakter Ko Gyeom si pengulas film ya..hehe.

Tokoh yang menarik, plot yang kuat dan kru yang hebat

Yap, alasan pertama saya nonton drama ini tentu saja karena diperankan oleh Cho Woo Shik dan Park Bo Young. Tapi setelah nonton drama ini saya jadi lebih tertarik lagi, karena ada second couple gemes Lee Jun Young yang berperan sebagai Hong Si Jun dan Jeon So Nee yang berperan sebagai Son Ju A. Penempatan tokoh ini menarik menurut aku, karena second couplenya nggak kalah keren dari si Lead Couple. Alih-alih sebagai bumbu cerita, mereka berdua ini justru lebih “ngena” kisahnya. Lebih dalam dan rumit. Lalu ada cerita Ko Gyeom dan Abangnya Ko Jun, saya nggak nyangka akan jadi semelow ini kisah mereka berdua.

(instagram.com/netflixid)

Dan cerita menarik ini tentu saja tercipta berkat kolaborasi apik dari sutradara dan penulis naskah yang keren pula. Sutradaranya adalah Oh Choong Hwan yang pernah menggarap drakor populer Start Up (2020) dan Hotel Del Luna (2019). Sementara penulis naskahnya yaitu Lee Na Eun, yang suskes dengan Our Beloved Summer (2021).

Cinta yang “deep”

Meski sekilas terlihat klise, kisah cinta Ko Gyeom dan Kim Mubee sangat dalam dan rentan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu Mobee, “kuharap Mubee memacari pria yang lebih simple, tapi dia malah dapat pacar yang persis dia”.

Mubee tumbuh dengan merawat kebencian pada ayah yang tak pernah “hadir” dalam kehidupannya. Ayah yang menurutnya lebih mencintai film ketimbang dirinya. Kebencian yang kadang bersisian dengan rindu dan iba pada sosok laki-laki yang harusnya menjadi cinta pertamanya. Sebuah kebencian pada sosok ayah yang dia rawat sehingga tak menyisakan ruang pada kecintaan ibu yang selalu mengusahakan hadir dalam hidupnya.

Mubee dewasa, bertemu Ko Gyeom yang melapisi kecemasan masa kecil dengan keceriaan. Ko gyeom kecil yang tumbuh tanpa orang tua, selalu bersikap baik dan ceria agar sang Abang tak pernah berpikiran meninggalkannya. Sehingga setelah dewasa, sikap itu tetap terbawa, Gyeom yang punya banyak pikiran tapi punya kesulitan mengungkapkannya.

Cinta antara orang-orang yang inner child-nya terluka ini, kadang bisa saling mengerti dan menguatkan, tapi kadang juga rentan.

(instagram.com/netflixid)

Pun begitu dengan kisah cinta Si Jun dan Ju A. Hubungan yang mereka jalin selama tujuh tahun akhirnya berujung kata putus juga. Ju A yang selalu mendampingi Si Jun akhirnya lelah sendiri. Dan memutuskan untuk fokus pada dirinya dan mengembangkan potensinya sebagai penulis naskah.

Suatu hari sebuah naskah skenario yang dibuat Ju A memaksanya untuk menemui kembali sang mantan. Di sinilah kisah mereka yang ternyata sangat dalam itu diulas dalam bentuk yang sangat manis sekaligus menyakitkan. Meski masih saling mencintai, tapi mereka sangat tahu bahwa mereka tak mungkin bersama lagi.

Yang tak kalah menarik juga, hubungan persahabatan Gyeom dan Si jun. Setelah meninggalnya Ko Jun, kakak Gyeom, Si Jun tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur Gyeom. Si Jun tak terbiasa menghibur orang dengan kata-kata. Chat yang berulangkali dihapusnya adalah bukti bahwa ia tak tahu harus bilang apa. Tapi Si Jun tak salah, apa yang harus dikatakan pada orang yang kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya.

Dan Si Jun menemukan caranya sendiri. Diam-diam membawa perlengkapan untuk Gyeom yang tidur di dalam mobil karena tak sanggup tidur dalam rumah yang kosong tanpa abangnya. Setiap pagi membersihkan mobil Gyeom yang penuh dengan kaleng-kaleng bir, membawakannya pelembab udara dan sebagainya. Tentu saja Gyeom menyadari hal itu, dia sudah mengenal sahabatnya itu sejak di bangku sekolah.  

Memeluk inner child dan melangkah ke depan

Drama ini mengajarkan kita tentang menerima dan melepaskan dengan jujur. Berani mengakui luka dan berdamai dengan diri sendiri. Memeluk “si kecil” yang terluka dalam diri kita masing-masing.

Melo Movie bukan sekadar kisah romansa biasa. Ini adalah cerita tentang mereka yang jatuh cinta, berjuang mengejar mimpi, dan berusaha berdamai dengan masa lalu. Dari Ko Gyeom, si kritikus film yang dulu bercita-cita menjadi aktor, hingga Kim Mubee, sutradara berbakat yang tumbuh dengan luka masa kecilnya, drama ini menghadirkan perjalanan emosional yang realistis, hangat, dan penuh makna.

(instagram.com/netflixid)

Sebuah serial drama yang akan membuat kita tertawa, menangis, sekaligus merenung: tentang cinta, kehilangan, dan cara kita memeluk masa lalu untuk melangkah ke depan.

Jadi, apa drama ini layak mendapatkan waktu berharga dan perhatian kita? Sangat layak. Selamat menonton.

10 Tahun Ngeblog: Sebuah Perjalanan, Sebuah Cerita, Sebuah Hidup

 

Meski bukan penulis hebat dan terkenal, saya sebenarnya sudah mulai menulis sejak dibangku sekolah menengah di sebuah Pondok Pesantren terbesar di Sumatera. Transisi dari anak SD yang ”kecil” menjadi anak asrama yang banyak dinamikanya, membuat saya banyak mencurahkan pikiran dan perasaan pada tulisan. Saat tamat dari pesantren, puluhan diary sudah saya tulisi. Saat waktu luang, kadang saya membaca tulisan-tulisan itu kembali, dan mendapati diri saya menangis, tertawa, nelangsa dan kadang geli sendiri membaca tulisan-tulisan itu lagi. Mengingatkan hal-hal kecil dan besar yang telah saya lalui. Melihat kebelakang ternyata sudah sejauh ini perjalanan yang saya tapaki.

Saat internet mulai masuk dalam kehidupan perkuliahan saya, saya mencoba-coba menulis blog. Dan blog ini tentu saja bukan blog pertama saya. Ditulisan pertama saya diblog ini, saya pernah memention bahwa blog ini adalah blog ke empat saya setelah amnesia pada password blog-blog yang lama.

Tak ada yang special saat saya mulai ngeblog. Saya hanya menulis apa yang terasa ingin saya tulis. Saat memulai bikin blog baru lagi di 2015 lalu, saya juga tak punya ekspektasi apa-apa terhadap tulisan saya. Saya hanya ingin menulis agar tak lupa. Tak lupa bahwa saya pernah sendirian ke pameran buku Braga, tak lupa bahwa saya pernah menunggu dengan sepenuh hati agar bertemu dengan travel writer favorit saya dalam satu sesi diskusi, juga agar tak lupa bahwa saya pernah hujan-hujan naek angkot untuk pergi ke pasar seni ITB dengan seorang sahabat yang sekarang telah pergi ke sisi Ilahi. Yap, hanya itu alasan saya ngeblog.

Vakum? Tentu saja pernah. Semangat bercerita yang diawali niat baik itu tak serta merta membuat seorang Mita konsisten menulis. Banyak cerita yang tak terdokumentasikan, banyak kisah-kisah penting yang telah saya lewatkan. Jika kalian melongok ke sisi kanan blog ini, kalian akan melihat jeda panjang tahun-tahun yang tak terisi. Tulisan yang diawali di tahun 2015, baru tersambung lagi pada Hari Anak Nasional tahun 2019, saat saya sudah memiliki seorang putri berusia 3 tahun. Menyesal? Tentu saja! Banyak memori-memori yang sekarang tak saya ingat lagi. Banyak cerita yang sudah menguap begitu saja.

Perjalanan 10 tahun blog ini memang tak banyak prestasi. Hanya sekali saya mengikuti lomba blog dan menang juara 2. Saat itu Komisi Informasi Sumatera Barat menyelenggaran lomba artikel blog tentang keterbukaan informasi publik. Setelahnya? Ya tidak pernah lagi. 😆

Menulis itu bagi saya adalah healing dan eksistensi diri. Dengan menulis, saya merasakan keberadaan saya sebagai seorang “Mita”. Menulis juga punya sisi penyembuhan tersendiri bagi saya. Saya menulis apa saja yang terpikir dengan bahasa yang saya bisa, lalu saat membacanya kembali saya merasa ada yang lapang dan lega di dada saya. Menulis organik tanpa memikirkan SEO atau traffic, hanya tentang berbagi cerita, pengalaman dan sudut pandang dengan jujur membuat ngeblog terasa lebih deep dan bermakna.

Blog ini adalah pantulan dari perjalanan hidup saya. Seperti yang bisa teman-teman lihat di sini, tak ada yang sempurna. Ada celah, ada jeda panjang, ada cerita yang melompat dari satu topik ke topik lain. Begitulah hidup yang saya maknai, penuh warna, tak selalu beraturan, namun tetap layak dan menyenangkan. Setiap tulisan di sini adalah bagian dari proses saya memahami dunia, bertumbuh, dan berbagi dengan kalian.

Dalam perjalanannya, menulis bagi saya bukan hanya sekadar aktivitas pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial. Dunia digital semakin berkembang, dan literasi digital menjadi semakin penting. Di era informasi yang serba cepat ini, menulis di blog bukan hanya tentang bercerita, tetapi juga menjadi bagian dari keberpihakan terhadap literasi digital yang sehat. Blog adalah ruang bebas untuk berbagi pemikiran, merekam sejarah kecil, dan memberikan perspektif yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Dukungan terhadap komunitas blogger di Indonesia juga semakin berkembang. Salah satu yang berperan besar adalah dukungan ASUS, yang sejak tahun 2015 aktif mengadakan berbagai event baik online maupun offline untuk mendukung perjalanan para blogger. Dari workshop menulis, diskusi tentang teknologi, hingga acara peluncuran produk yang melibatkan para blogger sebagai media independen. Inisiatif seperti ini sangat berarti, karena membuka ruang belajar dan berbagi bagi para blogger di Indonesia, serta mengakui peran mereka dalam ekosistem digital yang terus tumbuh. Dan untuk saat ini, special thanks untuk laptop kesayangan saya ASUSVivobook Pro 14 OLED yang sudah membersamai perjalanan blogging ini.

Saya percaya bahwa setiap tulisan memiliki kekuatannya sendiri. Mungkin tidak terlihat langsung, mungkin butuh waktu lama untuk disadari, tetapi menulis adalah investasi. Satu tulisan yang kita anggap sederhana bisa saja menjadi penyemangat bagi seseorang di luar sana. Satu refleksi pribadi bisa saja menjadi titik terang bagi pembaca yang sedang mencari jawaban. Dan lebih dari itu, menulis bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri, bahwa kita pernah ada di suatu titik, dengan perasaan dan pengalaman yang pernah begitu nyata.

Saya jadi ingat sebuah dialog dalam drama korea “Study Group” : “apa yang terjadi, saat kamu merebus air? Jawabannya adalah tidak ada yang terjadi. Air mulai menggelembung dan menciptakan peluang ketika mencapai titik didih. Tapi sepertinya tidak ada yang terjadi sampai saat itu. Jadi yang ingin kukatakan adalah sampai kamu mencapai titik didih, kamu mungkin berpikir tidak ada yang berubah sama sekali. Tapi jika kamu memberikan energi pada sesuatu secara konsisten, perubahan besar akan terjadi pada akhirnya. Entah itu air, atau belajar” (atau ngeblog 😁). 

Lalu Apakah saya akan terus ngeblog? Jawabannya, tentu saja iya. Blog ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Selama masih menulis, artinya selama itu saya akan selalu belajar. Selama saya masih belajar, artinya saya masih “hidup”. Saya menulis karena saya ada. Aiiih, plesetannya agak jauh ya :D

Kalau teman-teman masih ragu untuk ngeblog, atau mungkin pernah vakum dan ingin kembali, menulislah. Bukan untuk viral, bukan untuk sempurna, tapi untuk diri teman-teman sendiri. Blogging adalah perjalanan, bukan perlombaan. Kalian nggak harus punya banyak pembaca untuk merasa tulisan kalian berarti. Kadang, satu tulisan bisa mengubah hidup seseorang, termasuk hidup kita sendiri.

Jadi, mari menulis, mari berbagi. Karena setiap cerita layak untuk didengar, dan setiap pengalaman pantas untuk dikenang.



*Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel

PENGALAMAN PERTAMA ANAK BERPUASA NISFU SYA’BAN

 

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang istimewa dalam Islam, karena di dalamnya terdapat malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam ke 15 yang diyakini sebagai malam penuh berkah dan ampunan.

Rasulullah bersabda:

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antara sesama umat Islam) (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daraquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389.

--------------

Sebagai seorang ibu, melihat anak menjalani ibadah pertamanya adalah momen yang istimewa. Nisfu Sya’ban kali ini, putri kecilku, Zea, mencoba berpuasa di hari Nisfu Sya’ban untuk pertama kalinya. Awalnya, saya sempat ragu, dan berulangkali menanyakan apa beneran dia mau dibangunin sahur. Saya mikirnya bangunin sahur saja dulu, ntar kalau mau batalin siang juga nggak apa-apa. Jadilah jam 04.00 itu saya bangunin dia. Zea termasuk anak yang nggak susah dibangunin. Bahkan, selama puasa Ramadhan tahun lalu, ia selalu bangun tanpa drama.

Sekitar jam 10 saya nanya lagi apa dia masih sanggup, jawabannya malah menyentak saya,  “kok Bunda nggak percaya sih sama Ea, Ea kuat bun, Ea sudah gede”. Jleb. Ternyata saya yang meragukannya. Padahal seharusnya saya cukup mendukung dan menunggu sampai ia sendiri yang meminta berbuka.

Karena Zea masuk siang, jam satu abis Abaknya sholat jum’at Zea diantar ke sekolah. Disekolah sampai jam setengah lima. Lanjut pergi les bahasa inggris jam lima. Jadwal les yang harusnya hari sabtu jam setengah dua digeser sama Miss-nya jadi Jum’at jam lima sore karena miss ada keperluan hari Sabtu dan hari ini hanya tes naik tingkat saja.

Kami benar-benar takjub. Pas ditanya lagi saat mau diantar les apakah aman-aman saja, dia jawab, “aman, I’m okay”.

Pulangnya malah makin sumringah. “Kata Miss, nilai Ea yang paling tinggi”. Masya Allah Tabarokallah.

Meja makan kami saat iftar ini berisi goreng ikan, bakso urat, roti bakar, cindua dan melon potong.

Azan berkumandang, dan satu hari yang luar biasa tlah kami lewatkan. Pendidikan ibadah adalah proses bertahap, semoga perjalanan mentarbiyahi ini menjadi titik tolak untuk mempersiapkan Zea menjadi hamba yang taat dan mencintai Tuhannya.

THE TRAUMA CODE: HEROES ON CALL Drama Medis yang Mengetuk Hati dan Memacu Adrenalin

Instagram : netflixid
Minggu ini sedang seru-serunya ngomongin drama korea yang satu ini. Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan musibah-musibah yang tak terduga, drama yang tayang di Netflix ini menyajikan pandangan yang bermakna dan mendalam tentang hal yang kadang luput dari fokus kita, penanganan trauma. Bagi “alumni” Doldam, drakor Dr. Romantic, yang sudah khatam season 1 sampai season 3, fasilitas trauma center pasti sudah kebayang gambarannya. Pusat layanan trauma itu sendiri adalah fasilitas yang menyediakan perawatan khusus di luar cakupan perawatan IGD bagi pasien dengan trauma fatal.

Ya, meski bukan drakor pertama yang bercerita tentang pusat penanganan trauma, tapi drama ini sukses mengambil hati penonton dengan alur yang memikat, menarik juga menyentuh. Alurnya yang menyajikan beberapa genre seperti komedi dan aksi menjadikan drama ini semakin menghipnotis untuk lanjut menonton episode demi episode.

Tak hanya memacu adrenalin saat menyaksikan adegan-adegan heroik si dokter jenius Baek Kang Hyuk dan bromance-nya dr. Yang Jae Won saat menghadapi kasus-kasus kritis, nurani kita juga disentuh dengan melihat lebih dalam perasaan, pengorbanan, dan keberanian yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa di tengah situasi paling menegangkan.

Yuk kita spoiler dikit, biar kamu punya banyak alasan kenapa drakor The Trauma Code : Heroes On Call ini worth it untuk kamu tonton.

Hadirnya si Dokter ugal-ugalan

Buruknya penanganan pasien trauma fatal di rumah sakit ternama di Seoul, menyebabkan 13 orang meninggal dunia tahun itu karena tidak mendapat penanganan darurat yang memadai dari pusat penanganan trauma. Hal itu menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat Seoul. Kegelisahan tersebut membuat masyarakat meminta langkah yang konkrit dari pemerintah khususnya kementerian kesehatan.

Hal ini memicu kemarahan ibu mentri kesehatan ketika rapat bersama para kepala Rumah Sakit ternama di Seoul. Dana 10 milyar won yang sudah digelontorkan kementerian pada Rumah Sakit Universitas Hankuk hanya berbuah fasilitas yang berupa formalitas saja, tidak berfungsi dan terabaikan.

Instagram : netflixid

Dalam situasi ini, ibu mentri akhirnya memulangkan seorang dokter “trantrum” dari tempat kerja sukarelanya di Sudan. Joo Ji Hoon yang berperan sebagai Baek Kang Hyuk, ahli traumatologi dengan kepribadian keras kepala namun jenius, pulang disambut pasien trauma yang mengharuskannya langsung masuk ruang operasi dan terlambat ke pertemuan penyambutannya. Di episode ini lah ia bertemu dengan si “anus” doktor spesialis kolorektal, Yang Jae Won, yang kemudian menjadi "budak nomor 1" dan kepala perawat cantik, Cheon Jang Mi si “Gangster” yang kemudian hari menjadi "budak nomor 2". Lalu siapa "budak nomor 3?", nanti kamu bakal tau juga..Wkwkkwk. 😂

Kelahiran Murid Pertama

Pertemuan dr. Baek dengan dr. Yang membuat koneksi tersendiri antara mereka. Si cerdas mahasiswa terbaik dan penerima beasiswa penuh Fakultas kedokteran Universitas Hankuk itu dipinang menjadi murid pertama oleh dr. Baek. Tentu saja Jae won galau memilih antara tetap menjadi murid “pak kabag” yang punya banyak sertifikat dan predikat atau beralih menjadi murid dokter trantrum yang punya segudang pengalaman.

Instagram : netflix
Terus Berjuang

Meski sudah menjadi “zombie” saking lelahnya menghandle trauma center berdua sama dokter Baek, Jae won tetap bertekad untuk terus “berlari”. Puncaknya, terjadi kecelakaan beruntun di sebuah terowongan, kakak adik yang sedang dalam perjalanan untuk menemui ayah mereka yang sedang sekarat di Rumah sakit menjadi korbannya. Kakak adik yang terluka parah itu akhirnya menerima tranplantasi organ masing-masih dari ayah mereka.

Instagram : netflixid

Terjadi pada siapa saja

Yap, namanya musibah bisa saja terjadi pada siapa saja.  Qodarullah kali ini menimpa putri kesayangan dr. Han Yoo Rim yang sedang berseteru dengan dr. Baek Kang Hyuk. Dokter Han yang sedang diatas angin pada rapat kepala-kepala bagian Rumah Sakit, mencerca habis-habisan dr. Baek karena defisit anggaran pusat trauma saat dering HPnya berbunyi mengabarkan Han Ji young, putrinya, mengalami kecelakaan fatal dan harus segera ditangani di pusat penanganan trauma. 

Instagram : netflixid

Kode Hitam

Sebuah kecelakaan besar terjadi di sebuah jembatan yang menelan korban ratusan orang di atas maupun di bawah jembatan. dr. Baek Kang Hyuk langsung ke TKP dan nge-triage korban sesuai kode merah, kuning, hijau dan hitam. Di tengah hiruk pikuk inilah Jae won dipercaya untuk melakukan operasi pertamanya. Dalam episode ini juga dijelaskan bahwa tiga pasien dengan cedera parah akhirnya berhasil diselamatkan berkat bantuan cepat si dokter jenius, Baek Kang Hyuk.

Instagram : netflixid

Alasan untuk tidak menyerah

Meski politik kotor Rumah sakit tetap berlanjut, dr. Baek tetap fokus menangani pasien di pusat trauma. Hal ini akhirnya juga menginspirasi dr. Yang Jae Won untuk menemukan alasan untuk tidak menyerah membantu pasien. “itu karena kalian bisa. Karena kalian bisa, jadi kenapa tidak!. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu. Dahulu, “kenapa aku harus kerja sekeras ini, toh tak ada yang sadar”, aku sering berpikir begitu. Tetapi, tujuan kita bukan minta pengakuan, bukan juga minta kompensasi. Apa aku menjadi kepala perawat selama lima tahun di pusat trauma karena aku pahlawan super? Karena harus kulakukan. Harus ada yang melakukannya, dan kebetulan aku orangnya. Dan sialnya, kau juga orangnya”, ujar kepala perawat Cheon Jang Mi suatu ketika pada Jae won.

SOS dari Sudan Selatan

Anggota unit Hanbit di Sudan Selatan terjebak baku tembak. Sebelas anggota asosiasi medis yang melakukan kegiatan bantuan dan medis hampir diculik oleh kelompok bersenjata. Namun prajurit uni Hanbit sekaligus anggota militer PBB, yang sedang melakukan rekonstruksi jalan di sana, melakukan operasi penyelamatan. Namun dalam prosesnya, Kapten Lee Hyeon Jong dari uni Hanbit terluka tembak dan dikabarkan kritis. Menteri Kesehatan menelepon dr. Baek untuk membawa timnya menyelamatkan Kapten Lee Hyeon Jong. Dan seperti yang kalian tebak, dr. Baek berangkat bersama 3 “budak”nya :D. Budak Nomor 1, budak nomor dua, dan dr. Park si dokter anestesi.

Pasien: Baek Kang Hyuk

Saat kembali dari Sudan Selatan dengan selamat, sebuah kebakaran besar terjadi. dr. Baek langsung menuju lokasi. Malangnya, di gedung yang kebakaran ada sebuah unit yang menjual gas medis. Ditengah kebakaran terjadi ledakan besar yang membuat dokter spesialis trauma ini harus dilarikan ke tempat kerjanya sebagai pasien. Nyama dr. Baik ada ditangan muridnya. Berhasilkah dokter trantrum ini siuman dan menyumpah “shibal sekiya” kembali?

Secara keseluruhan, drama ini berhasil menggambarkan situasi di pusat trauma dengan realistis. Drama yang diadoptasi dari webtoon Severe Trauma Center: Golden Hour karya Hansaiga ini worth it untuk kamu tonton. Silahkan dilanjut di Netflix ya Yeorobun 😀. Annyeoooong... 

*semua foto dari Instagram : netflixid

Milkcheese Strawberry: Manis, Creamy, dan Bikin Nagih!

Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda. Selain ibadah yang lebih khusyuk, momen berbuka puasa juga jadi saat yang paling dinanti...