SANDIWARA BESAR BERNAMA NEGARA


Sebelumnya, saya jaraang menulis atau bercerita tentang politik di blog saya. Bukan, bukan karena saya menganggap politik tak layak untuk diceritakan atau berdiri di sisi lain cerita hidup saya, bukan. Hanya saja, dari awal saya menginginkan blog ini sebagai media atau citra dari diri saya sebagai person, sebagai individu, sebagai seorang ”Mita”. Saya ingin blog ini jadi bagian -baik buat saya secara pribadi maupun orang lain-, untuk melihat sisi persona saya. Blog ini saya buat agar saya tak lupa perjalanan yang sudah saya lalui sebagai seorang manusia.

Namun hari ini, sepertinya akan jadi kali pertama saya bicara tentang carut marut politik negeri yang luar biasa kusut ini. Saya “dipaksa” nurani saya untuk menuliskan sesuatu yang sebenarnya enggan saya singgung sebelumnya. Bukan karena saya apatis, tetapi karena setiap kali menyentuh ranah ini, rasanya seperti merobek luka bernanah yang sudah lama dibiarkan tanpa diobati. Luka yang semakin hari semakin “maruyak” saja. Saya tidak tahu akan memulai menulis dari mana, dari poin apa. Saking kusut dan silang sengkarutnya ingatan dan lalu lalang informasi di kepala saya.

Tadi malam, berita tentang tergilasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun oleh kendaraan taktis negara hanyalah puncak dari gunung es. Sebuah simbol paling telanjang betapa relasi antara rakyat dan penguasa sudah tak lagi sehat. Aparat yang semestinya menjadi pelindung, yang harusnya menjaga rakyat sampai setiap warga pulang dengan selamat, tapi malah menjadi mesin dingin tanpa nurani. Rakyat yang seharusnya dilindungi, justru dilindas. Penindas melindas yang tertindas.

Kemarahan rakyat yang tumpah ruah saat ini, sejatinya bukan ledakan spontan. Ia adalah akumulasi panjang dari kekecewaan yang menumpuk sejak presiden dilantik. Setiap bulan, rakyat seakan dipaksa menelan pil pahit baru. Dari kenaikan PPN 12%, korupsi timah Rp271 triliun yang pelakunya justru tersenyum bahagia di ruang sidang, hingga fenomena mobil pejabat dengan strobo di jalanan yang makin merajalela.

Belum lagi soal dwifungsi TNI yang kembali dihidupkan, drama MBG yang absurd, anak SD hampir ditabok, nenek meninggal karena berebut gas 3,5 kg, keracunan massal, sampai mitra usaha yang menanggung kerugian miliaran tanpa bayaran. Sementara itu, ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian atas nama “efisiensi.” Ironisnya, di tengah IHSG yang jatuh, Presiden dengan ringan berkata, “Saya tidak main saham,”.

Kegetiran makin menyesakkan hati ketika BUMN kita sendiri tercoreng kasus oplosan bensin. dilanjutkan komentar pejabat yang menyalahkan rakyat, hingga sindiran-sindiran seperti “cari kerja di luar negeri saja” atau “jangan mengandalkan pemerintah.” Kata-kata yang semestinya lahir dari empati, justru berubah menjadi ejekan. Rakyat yang kritis dianggap tolol, suara protes dituding tak perlu karena “lebih baik diskusi saja.”

Sementara itu, kenaikan PBB yang melonjak ratusan persen hingga seribu persen, rekening rakyat dibekukan hanya karena tidak aktif, tanah nganggur diambil paksa, hingga parameter kemiskinan yang dipelintir agar angka di atas kertas tampak menurun, semuanya semakin menegaskan betapa rakyat dibiarkan berjalan sendirian.

Yang lebih menyakitkan, wakil rakyat di Senayan justru sibuk berjoget, mengeluh soal macet, atau menuntut tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Di saat rakyat berteriak di jalan, mereka memilih WFH. Presiden sendiri seakan berada di panggung paralel, sibuk membagi-bagikan tanda kehormatan kepada tokoh-tokoh yang jauh dari kata pantas untuk menerimanya.

Dan di puncak gunung es itu, lahirlah tragedi, Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas dilindas kendaraan polisi, sebuah ironi paling getir ketika aparat yang dibiayai pajak rakyat justru merenggut nyawa rakyat kecil.

Semua fragmen ini menegaskan satu hal, pemerintah kehilangan kepekaan. Mereka bukan hanya gagal membaca gelombang kemarahan, tetapi juga terus memproduksi masalah baru tiap bulannya. Situasi kita makin menyerupai distopia Hunger Games, dimana rakyat terus dipaksa bertahan hidup di arena yang diciptakan oleh kebijakan dan kelalaian penguasa sendiri.

Inilah politik negara kita hari ini, politik yang kehilangan denyut moral dari nadi nurani yang putus. Penuh penguasa serakah yang tak peduli jeritan rakyat. Penuh politikus yang tega membiarkan jalanan dipenuhi gas air mata, tetapi menutup mata pada air mata rakyatnya sendiri.

Kalau kita bicara tentang politik dalam kerangka negara demokrasi, bukankah semestinya harus ada keseimbangan, rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan pemerintah sebagai pengemban amanah. Tetapi hari ini, yang kita saksikan justru pembalikan peran. Rakyat dianggap ancaman, dianggap beban, bukan pemilik sah negeri ini. Kritik dipandang musuh, bukan vitamin untuk memperbaiki sistem yang sudah kepalang rusak.

Dan di titik inilah, kita harus berani bertanya, untuk siapa sih sesungguhnya negara ini bekerja? Apakah untuk rakyat yang membayar pajak, yang setiap hari berjuang dengan keringat dan darah? Ataukah untuk segelintir elite yang hanya memelihara kekuasaan seperti memelihara harta warisan?

Demokrasi, yang dulu dielu-elukan sebagai capaian paling monumental pascareformasi 1998, kini tinggal jargon kosong. Kalau dulu kita punya mimpi besar tentang pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan berpihak pada rakyat, sekarang yang tersisa hanyalah ritual prosedural bernama “pemilu”. Demokrasi berhenti pada bilik suara, bukan lagi pada ruang hidup rakyat sehari-hari.

Kita menyaksikan bagaimana kebebasan sipil dikebiri pelan-pelan. Demonstrasi mahasiswa yang mustinya jadi “mesin moral bangsa” kini dibungkam dengan gas air mata dan pentungan. Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, dijerat dengan pasal-pasal karet UU ITE. Rakyat yang mengkritik, di-framing sebagai pembuat onar. Sementara elite yang korup, justru dirayakan dengan karpet merah dan tanda kehormatan.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari semakin vulgarnya praktik oligarki. Politik kita kini bukan lagi arena ide dan gagasan, melainkan pasar gelap kepentingan. Kursi legislatif, jabatan birokrasi, hingga posisi strategis di BUMN, semuanya bisa dinegosiasikan. Yang menentukan tentu saja bukan kualitas, bukan integritas, tetapi siapa yang punya modal finansial paling tebal, siapa yang punya ordal. Kekuasaan berubah menjadi bisnis, dan negara hanyalah perseroan terbatas milik segelintir orang.

Lebih parah lagi, hukum yang seharusnya menjadi pagar moral dan konstitusional bangsa, kini kerap dijadikan alat tukar. Manipulasi hukum seakan jadi hal biasa. Pasal bisa dicari untuk menghantam lawan politik, tetapi pasal juga bisa hilang jika menyangkut kawan sendiri. Apa yang kita saksikan belakangan ini adalah betapa hukum tidak lagi berfungsi sebagai pedoman keadilan, melainkan senjata politik bagi siapa saja yang memegang palu kekuasaan.

Ketika demokrasi meredup, oligarki semakin beringas, dan hukum menjadi komoditas, maka yang hilang adalah rasa keadilan publik. Rakyat kehilangan kepercayaan, dan itu tentu saja berbahaya. Karena kepercayaan adalah fondasi negara. Tanpa itu, negara bisa terlihat besar secara formal, tetapi rapuh di dalam. Dan rapuhnya negara tidak hanya soal ekonomi atau politik, melainkan soal kehilangan arah moral.

Fenomena tergilasnya seorang driver ojek oleh rantis negara tadi malam hanyalah simbol-simbol kecil dari kerusakan besar yang sedang kita alami. Simbol bahwa rakyat semakin tak dianggap, bahwa nyawa manusia bisa jadi sekadar “collateral damage” dari politik kekuasaan. Simbol bahwa negara ini sedang sakit keras, dan para penguasa berpura-pura tidak tahu, pura-pura dungu.

Pada akhirnya, politik bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi soal bagaimana kuasa itu digunakan. Aristoteles pernah berkata, politik adalah jalan menuju kebaikan bersama. Namun dalam praktik kita hari ini, politik justru semakin menjauh dari hakikatnya. Ia kehilangan substansi moralnya, kehilangan etika publiknya, dan terjebak pada kepentingan pragmatis yang hanya melayani segelintir elite. Sekelompok Tenryuubito.

Fenomena demokrasi yang meredup, oligarki yang semakin vulgar, serta hukum yang dipermainkan adalah tanda-tanda klasik dari negara yang kehilangan arah nalar publik. Politik berhenti sebagai ruang deliberasi gagasan, dan bergeser menjadi instrumen untuk melanggengkan dominasi. Ketika itu terjadi, rakyat hanya dilihat sebagai angka, bukan sebagai manusia dengan hakikat kemanusiaan yang utuh.

Maka pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai bangsa yang demokratis ketika rakyat tidak lagi merasa aman di hadapan negaranya sendiri? Apakah kita masih bisa bicara tentang supremasi hukum ketika hukum itu sendiri tunduk pada kuasa modal dan politik?

Refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan pahit. Negeri ini tengah berjalan di jalan yang keliru. Dan jalan keliru itu tidak bisa diluruskan hanya dengan retorika politik atau seremoni demokrasi lima tahunan. Bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh mereka yang berani secara moral, jernih dalam berpikir, dan tulus berpihak pada rakyat. Namun bukankah itu justru utopia di tengah panggung politik yang dipenuhi aktor dengan topeng kekuasaan?

Jika politik kehilangan moral, hukum kehilangan keadilan, dan penguasa kehilangan rasa malu, maka pada dasarnya yang kita saksikan hanyalah panggung besar sandiwara. Dan rakyat, seperti driver ojek yang tergilas tadi malam, hanyalah korban yang ditinggalkan begitu saja di balik tirai tebal kekuasaan.

10 REKOMENDASI DRAMA CHINA ROMANCE FAVORIT

Apa kabar awal pekan kalian, teman-teman? Lagi hectic aka rempong sama rutinitas yang super padat, atau justru bisa menikmati hari dengan aman, tenang, damai, sentosa? lebih mirip drama thriller atau romcom, nih? Hehehe.

Disela-sela semua aktivitas kalian hari ini, aku mau berbagi hal menyenangkan yang bisa bikin kita tetap waras menjalani kehidupan ini. :D.

Kali ini aku mau berbagi 10 rekomendasi drama China romance favorit versi aku yang wajib banget kalian tonton. Penuh chemistry, dialog manis, dan kisah cinta yang bikin nggak bisa move on. Yang bakal bikin kalian senyum-senyum salting berasa hari jadi penuh bunga..wkwkw..lebay dikitlah ya.

Omong-omong soal Drama, iyaaa...iyaa...aku lagi betah-betahnya “nongkrong” di China nih, belom balik-balik ke Korea...wkwkwk..nggak tahu deh kenapa, mungkin ingin ganti suasana, dan memang dracin-dracin itu mulai menjerat aku hingga susah untuk move on. :D

Kalau drama Korea udah jadi tontonan mainstream, drama China alias dracin diam-diam juga punya pesona yang nggak kalah bikin baper. Dari visual level dewa, chemistry aktor-aktris yang natural, sampai cerita yang relatable, paket lengkap pokoknya mah.

Ngomongin soal drama China romance, rasanya nggak pernah ada habisnya ya. Bukan cuma bikin baper dan salting, tapi juga jadi candu sampai bikin kita rela begadang semalaman maraton episode-episode yang panjangnya puluhan itu. Setelah sukses jatuh cinta sama Hidden Love, Only for Love, The First Frost, dan The Best Thing, aku pun lanjut maraton drama lain yang nggak kalah bikin hati meleleh. Dari kisah cinta manis yang bikin senyum-senyum sendiri sampai yang penuh konflik emosional, semua ada!

Kalau kamu lagi nyari dracin romance yang manis, bikin baper, sekaligus worth untuk dimarathonin, ini dia daftar drama romance China favorit aku yang wajib banget kamu tonton dan siap-siap, karena bisa bikin susah move on!

1.   Amidst a Snowstorm of Love

Bayangin deh, kamu lagi jauh dari rumah, datang ke New York buat kompetisi, eh malah kejebak badai salju. Nah, itu yang dialami Yin Guo, seorang pemain biliar profesional. Di tengah dinginnya kota asing, dia nggak nyangka ketemu sama Lin Yi Yang, mantan jenius biliar yang udah lama banget ngejauh dari dunia yang dulu bikin namanya besar. 

Pertemuan mereka tuh awalnya kayak kebetulan biasa, dibantu juga sama sepupu Yin Guo. Tapi dari situ, hubungan mereka pelan-pelan jadi lebih dekat dan hangat. Menariknya, Yin Guo sama sekali nggak tahu siapa Yi Yang sebenarnya, atau gimana masa lalunya di dunia biliar. Justru itu yang bikin cerita ini seru: rasa penasaran, pertemuan-pertemuan kecil, sampai akhirnya tumbuh perasaan yang bikin keduanya nggak bisa saling lepas.

Yang aku suka dari drama ini adalah bagaimana kehadiran Yin Guo bisa bikin Yi Yang “hidup lagi.” Dan bagaimana Yi Yang memperlakukan Yin Guo dengan penuh sayang.  Dari Yi yang yang udah menyerah sama mimpinya, jadi berani balik ke meja biliar. Dan jujur aja, cinta mereka di tengah dinginnya salju tuh manis banget, hangat, bikin senyum-senyum sendiri, sekaligus nyesek karena ada sisi perjuangan di dalamnya.

2.  Legend of the Female General

Legend of the Female General membawa kita ke dunia fantasi sejarah Tiongkok, dengan kisah penuh intrik, keberanian, dan cinta. Drama ini mengikuti perjalanan He Yan (Zhou Ye), seorang perempuan yang menyamar sebagai pria demi menjaga nama baik keluarganya, menebus luka pengkhianatan masa lalu, sekaligus merebut kembali hak yang seharusnya menjadi miliknya.

Di balik penyamarannya, He Yan berjuang menggantikan sang kakak laki-lakinya yang sakit, menempuh kerasnya latihan militer hingga tumbuh menjadi prajurit tangguh. Langkahnya membawanya bertemu Xiao Jue (Cheng Lei), seorang jenderal muda yang karismatik. Hubungan mereka semula penuh kecurigaan dan pertentangan, namun perlahan berubah menjadi kerja sama yang erat, hingga tanpa disadari, cinta pun mulai tumbuh di tengah medan perang dan intrik istana. 

Namun jalan He Yan bukan sekadar soal cinta. Ia harus melawan pengkhianatan, mengungkap konspirasi, dan membuktikan diri di dunia militer yang didominasi laki-laki. Setiap langkahnya adalah pertarungan antara menyelamatkan kehormatan keluarga, menjaga identitas, sekaligus menemukan jati diri.

Drama ini memadukan ketegangan wuxia, romansa yang menggetarkan hati, hingga strategi militer yang cerdas. Sebuah kisah tentang keberanian seorang perempuan yang melawan batasan, sekaligus tentang cinta yang tumbuh di tengah badai peperangan.

3.  Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile adalah drama romantis Tiongkok yang menggabungkan dunia e-sports dengan kisah cinta manis nan inspiratif. Ceritanya berpusat pada Tong Yao, mahasiswi sekaligus gamer berbakat yang bertekad menjadi pemain e-sports profesional wanita pertama di liga Tiongkok. Di tengah dunia yang sarat persaingan dan didominasi laki-laki, Tong Yao ingin membuktikan bahwa mimpinya bukan sekadar fantasi.

Perjalanannya tidak mudah. Ia harus menghadapi keraguan publik, tekanan dari rekan setim, hingga prasangka bahwa perempuan tak mampu bersinar di arena kompetitif. Justru di sanalah ia bertemu Lu Si Cheng, kapten tim elit ZGDX yang awalnya menilai Tong Yao sebelah mata. Namun seiring waktu, kekaguman tumbuh menjadi kepercayaan, dan kepercayaan berubah menjadi kisah cinta yang hangat. 

Lebih dari sekadar romansa, drama ini juga menampilkan dinamika tim yang solid, persahabatan yang terjalin erat, serta perjuangan gigih untuk meraih kemenangan di level internasional. Dengan latar belakang dunia e-sports yang seru dan penuh adrenalin, Falling Into Your Smile menghadirkan inspirasi tentang keberanian, kerja keras, dan tekad untuk melawan batasan.

Adaptasi dari novel populer dengan judul sama, drama ini menjadi pengingat bahwa mimpi bisa dicapai siapa pun, selama ada keberanian untuk melangkah dan hati yang pantang menyerah.


4.  Lighter & Princess

Lighter & Princess adalah drama Tiongkok yang memadukan romansa, ambisi, dan dunia teknologi. Kisahnya berpusat pada Li Xun, seorang programmer jenius dengan sikap dingin dan pemberontak, serta Zhu Yun, mahasiswi cerdas yang disiplin dan berasal dari keluarga konservatif.

Pertemuan mereka di kampus awalnya penuh gesekan—dua pribadi dengan dunia yang begitu berbeda. Namun, ketika dipertemukan dalam proyek pemrograman, persaingan perlahan berubah menjadi kerja sama, lalu berkembang menjadi cinta yang tulus. Zhu Yun mulai melihat sisi rapuh di balik kejeniusannya, sementara Li Xun belajar membuka diri lewat ketulusan Zhu Yun. 

Perjalanan mereka tidak mulus. Dunia teknologi yang keras, ambisi pribadi, dan sebuah tragedi besar yang menjerat Li Xun membuat hubungan ini diuji habis-habisan. Saat semua orang meragukan, Zhu Yun tetap memilih bertahan, mendampinginya dengan kesetiaan yang mengharukan.

Lebih dari sekadar kisah cinta, Lighter & Princess menyoroti bagaimana logika dan emosi, ambisi dan kasih sayang, bisa saling melengkapi. Drama ini menghadirkan cerita yang manis sekaligus getir—tentang cinta yang tumbuh di tengah kode-kode dingin, dan kesetiaan yang tetap menyala bahkan saat dunia terasa runtuh.

5.  Melody of Golden Age

Melody of Golden Age adalah drama Tiongkok yang manis tapi penuh teka-teki. Ceritanya tentang Yan Xing, gadis cerdas yang hidupnya tiba-tiba jungkir balik gara-gara harus menggantikan kakaknya yang kabur dari pernikahan politik. Demi menjaga nama baik keluarga, ia akhirnya menikah dengan Shen Du, kepala pengawal yang dingin dan tegas. Awalnya, jelas mereka nggak saling cinta, hubungannya terasa kaku, hanya formalitas.

Tapi justru dari situ, cerita menariknya mulai. Mereka dipaksa kerja sama dalam menyelidiki berbagai kasus misterius, dan di setiap langkah penyelidikan itu, jarak di antara mereka pelan-pelan mencair. Dari rekan kerja yang cuma formal, berubah jadi partner yang saling percaya… sampai akhirnya, benih cinta tumbuh di tengah bahaya.

Bukan cuma kisah dua hati, drama ini juga seru karena dibalut nuansa misteri dan intrik politik. Perlahan, Yan Xing dan Shen Du menemukan bahwa kasus-kasus yang mereka pecahkan ternyata terkait dengan sebuah konspirasi besar yang bisa mengguncang seluruh Kota Xiangan. 

Singkatnya, Melody of Golden Age itu kombinasi pas antara romansa yang bikin hangat, misteri yang bikin penasaran, dan pesan tentang keberanian serta kepercayaan. Drama ini menunjukkan kalau cinta bisa tumbuh di tempat paling nggak terduga, bahkan dari pernikahan yang awalnya cuma kewajiban.

6.  Eat, Run, Love

Eat, Run, Love itu drama romantis yang rasanya kayak perjalanan panjang antara mimpi, cinta, dan luka lama yang nggak pernah benar-benar sembuh. Ceritanya tentang Ding Zhi Tong (Sabrina Zhuang), mahasiswi ambisius yang matanya menatap lurus ke depan, fokus pada karier, nggak pernah kepikiran soal cinta. Sampai suatu hari, ia ketemu Gan Yang (Arthur Chen), cowok ceria yang datang dengan semangat hidup dan… berani banget ngejar dia.

Awalnya indah, penuh mimpi bareng. Tapi realita nggak selalu manis. Masalah keuangan dan tekanan sosial bikin hubungan mereka retak. Gan Yang, yang merasa harus melindungi keluarganya, akhirnya memilih pergi. Keputusan itu meninggalkan luka dalam buat Zhi Tong, dan cinta mereka kandas begitu saja. 

Sepuluh tahun lewat. Takdir main-main lagi: mereka dipertemukan di dunia bisnis. Bedanya, sekarang mereka bukan lagi dua mahasiswa penuh mimpi, tapi dua orang dewasa dengan luka, dendam, dan rasa bersalah yang ikut hadir di antara percakapan. Cinta lama itu jelas belum padam, tapi bercampur dengan perasaan lain yang bikin semuanya jadi rumit.

Yang bikin drama ini menarik bukan cuma romansa, tapi juga perjalanan emosional yang real: bagaimana ambisi bisa bentrok dengan cinta, bagaimana pengorbanan bisa terasa seperti pengkhianatan, dan bagaimana masa lalu kadang tetap menghantui meski kita sudah melangkah jauh.

Diadaptasi dari novel populer A Billion Dollar Romance, Eat, Run, Love jadi pengingat bahwa cinta bukan sekadar soal jatuh dan bahagia, tapi juga tentang kehilangan, bertahan, dan keberanian untuk menghadapi perasaan yang tak pernah selesai.

7.  Fireworks of My Heart

Fireworks of My Heart adalah drama romantis yang manis tapi juga mengharukan, tentang cinta lama yang terpisah waktu dan keadaan. Ceritanya berpusat pada Song Yan (Yang Yang), kapten pemadam kebakaran yang gagah dan penuh dedikasi, dan Xu Qin (Wang Chu Ran), dokter UGD yang tenang tapi kuat.

Dulu, mereka adalah teman kecil yang tumbuh bersama, saling berbagi mimpi, sampai akhirnya jatuh cinta. Tapi kebahagiaan itu nggak bertahan lama. Perbedaan status sosial dan penolakan keluarga Xu Qin memaksa mereka berpisah, menyisakan luka yang nggak sempat disembuhkan. 

Sepuluh tahun lewat. Takdir mempertemukan mereka lagi, kali ini lewat profesi yang sama-sama berhubungan dengan penyelamatan nyawa. Song Yan dengan seragam pemadamnya yang siap melawan api, Xu Qin dengan jas dokter UGD-nya yang berjuang melawan waktu di ruang darurat. Pertemuan itu menyulut kembali perasaan lama yang jelas belum pernah padam, tapi juga menghadirkan tantangan: bisakah cinta tumbuh lagi jika masa lalu dan restu keluarga masih jadi penghalang?

Yang bikin drama ini menarik bukan cuma romansa Song Yan dan Xu Qin, tapi juga cara cerita ini menyoroti keberanian, pengorbanan, dan betapa berharganya hidup manusia di balik profesi mereka. Ada adegan-adegan yang bikin deg-degan karena aksi pemadaman kebakaran atau kondisi darurat medis, tapi di sela-sela itu kita juga dibawa ke momen manis, getir, sekaligus penuh harapan tentang cinta yang memilih bertahan meski pernah dipisahkan.

Fireworks of My Heart adalah kisah tentang api, bukan cuma api yang dilawan Song Yan, tapi juga api cinta yang nggak pernah benar-benar padam meski waktu dan keadaan berusaha memadamkannya.

8.  The Prisoner of Beauty

The Prisoner of Beauty adalah drama Tiongkok yang manis sekaligus penuh intrik, tentang cinta yang tumbuh di tengah pernikahan politik. Ceritanya berpusat pada Xiao Qiao (Song Zu Er), gadis cerdas dan memesona, yang harus menikah dengan Wei Shao (Liu Yu Ning), seorang pria pemberani dan berhati baik. Pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan strategi politik antar keluarga. Tapi justru dari sana, perjalanan menarik dimulai.

Awalnya, hubungan Xiao Qiao dan Wei Shao hanya sebatas kewajiban. Mereka sama-sama terikat pada tuntutan leluhur, tekanan keluarga, dan intrik politik yang nggak ada habisnya. Namun, perlahan-lahan kehangatan hadir, cinta tumbuh, dan keduanya menemukan bahwa mereka lebih kuat saat berdiri bersama. 

Drama ini nggak cuma bercerita soal romansa dua hati, tapi juga tentang konflik keluarga, ambisi, dan perjuangan memulihkan kedamaian di tengah dunia yang penuh kekacauan. Xiao Qiao menunjukkan kecerdasannya dalam menghadapi politik istana, sementara Wei Shao mengimbanginya dengan keberanian dan ketulusan. Bersama, mereka belajar bahwa cinta sejati bukan datang dari janji manis, melainkan dari perjuangan dan pengorbanan.

Dengan latar yang terinspirasi dari era Tiga Kerajaan, The Prisoner of Beauty menghadirkan perpaduan yang pas antara politik, keluarga, dan romansa. Sebuah kisah tentang bagaimana cinta bisa bertahan dan bahkan tumbuh lebih kuat di tengah badai konflik.

Buat aku, daya tarik terbesar The Prisoner of Beauty ada pada perjalanan hubungan Xiao Qiao dan Wei Shao. Dari awal yang dingin dan penuh kewajiban, pelan-pelan tumbuh kehangatan yang tulus. Rasanya kayak lihat cinta yang nggak instan, tapi dibangun dengan pengorbanan, kerja sama, dan saling percaya.

Selain itu, aku juga suka bagaimana drama ini nggak melulu soal cinta manis, tapi berani menunjukkan realita, bahwa keluarga, politik, dan ambisi sering jadi tembok besar dalam sebuah hubungan. Justru konflik inilah yang bikin cerita terasa lebih hidup, bukan sekadar dongeng romantis biasa.

Dan yang paling nyantol di hati: chemistry Song Zu Er dan Liu Yu Ning. Keduanya berhasil bikin penonton ikut deg-degan, ikut tersenyum, bahkan kadang ikut nangis, seolah kita juga jadi saksi bagaimana cinta bisa tumbuh di tempat paling rumit sekalipun.

Singkatnya, The Prisoner of Beauty bukan cuma drama sejarah, tapi juga tentang cinta yang belajar bertahan, meski dunia di sekitarnya berusaha memisahkan.

9.  Please Feel at Ease, Mr. Ling

Buat aku, drama ini tuh tipikal rom-com manis yang bisa bikin hati hangat meski ceritanya diselipin intrik keluarga kaya raya. Awalnya terasa klise: cewek biasa ketemu CEO ganteng yang amnesia, lalu tinggal serumah. Tapi justru di situlah serunya, klise ini dieksekusi dengan cara yang bikin kita betah. 

Apa yang bikin drama ini menarik?

a.   Dinamika “Kelinci dan Serigala” 🐰🐺

Gu An Xin digambarkan sederhana, hangat, agak polos tapi tegas. Sementara Ling Yue itu CEO dingin, logis, dan punya aura mengintimidasi. Pas mereka dipertemukan, bukannya jadi berat, malah jadi lucu dan manis. Interaksi mereka natural, kayak tarik-ulur yang bikin gemas.

b.  Chemistry yang Juara

Zhao Lusi dan Liu Te sukses bikin penonton kebawa suasana. Kadang adegannya kocak, kadang bikin senyum-senyum sendiri, dan di momen tertentu malah bikin terharu. Chemistry mereka tuh bukan tipe over the top, tapi justru ringan dan believable.

     c.   Kehangatan di Balik Intrik

Meskipun ada drama keluarga kaya raya dengan perebutan kekuasaan, yang paling berkesan justru bagaimana Gu An Xin selalu jadi “rumah” buat Ling Yue. Dia bukan hanya merawat, tapi juga jadi tempat Ling Yue belajar percaya dan merasa tenang.

Singkatnya, yang paling aku suka dari Please Feel at Ease, Mr. Ling adalah perjalanan cinta yang sederhana tapi penuh ketulusan. Nggak melulu glamor atau drama berlebihan, tapi lebih ke cerita dua orang yang sama-sama luka, lalu menemukan arti rumah dalam diri satu sama lain.

10.  Deep Affection Eyes

Drama ini bukan sekadar kisah cinta biasa, tapi campuran antara romansa healing dan intrik keluarga penuh misteri.

Ceritanya tentang Ye Meng (Zhang Yuxi), seorang wanita karier yang hidupnya berantakan setelah gagal di dunia pekerjaan. Ia akhirnya memilih pulang kampung untuk mencari ketenangan. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Li Jinyu (Bi Wenjun), pria muda yang dingin, pendiam, tapi punya tatapan mata dalam seakan menyimpan rahasia besar.

Awalnya hubungan mereka terasa canggung. Li Jinyu sempat tidak yakin dengan hubungan mereka sejak Ya Meng melakukan banyak cara untuk mendekatinya. Meski berusia lebih muda, tapi Li Jinyu memiliki sikap dewasa dan perkataannya tegas banget. Salah satu kalimatnya yang paling bikin baper kira-kira kayak gini :

“Aku tidak ingin bermain-main dalam sebuah hubungan. Aku ini orangnya sekali jatuh cinta, sulit untuk melepaskan.”

Kalimat itu jadi turning point, bikin Ye Meng sadar bahwa meski Li Jinyu lebih muda, cintanya justru jauh lebih tulus dan matang. Dari situ, hubungan mereka berkembang jadi sesuatu yang indah, dari Didi gemes, jadi Gege yang melindungi, saling menguatkan, saling menyembuhkan luka, dan saling menemukan arti keluarga.

Tapi kebahagiaan itu terusik ketika Ye Meng menemukan sebuah cincin kuno, yang menguak misteri kelam tentang kematian ibunya. Semakin digali, makin jelas bahwa rahasia itu berkaitan erat dengan keluarga Li Jinyu, terutama ibunya yang penuh manipulasi. Intrik keluarga ini membuat hubungan mereka diuji habis-habisan.

Kalau menurut aku pribadi, Deep Affection Eyes ini tuh bukan sekadar tontonan romantis biasa. Ada sensasi hangat yang terasa pas nonton kisah noona romance-nya. Li Jinyu memang berondong, tapi sikapnya jauh dari kata kekanak-kanakan. Justru ucapannya sering bikin hati meleleh, apalagi waktu dia bilang kalau sekali jatuh cinta, dia nggak akan mudah melepaskan. Rasanya kayak reminder manis kalau cinta yang tulus itu nggak kenal usia. Chemistry Zhang Yuxi dan Bi Wenjun juga kerasa alami banget, sampai bikin kita percaya kalau mereka beneran saling jatuh cinta. 

Yang bikin tambah nagih, drama ini pintar banget nge-mix suasana healing romance dengan misteri keluarga yang bikin penasaran. Setting kota kecil yang awalnya terlihat tenang malah menyimpan rahasia besar, jadi penonton dibuat nyaman sekaligus deg-degan. Buat aku pribadi, drama ini cocok banget ditonton kalau lagi butuh cerita yang bikin hati hangat, tapi tetap punya konflik menarik biar nggak monoton.

Kalau kamu suka drama yang ada unsur romansa tulus, karakter “berondong tapi serius”, plus misteri keluarga yang bikin greget, Deep Affection Eyes bisa jadi pilihan bagus. ❤️

Nah, itu tadi beberapa drama yang belakangan ini sukses bikin aku betah duduk manis berjam-jam di depan layar. Ada yang manis ala noona romance, ada yang penuh healing vibes, sampai yang dibalut misteri keluarga bikin jantung deg-degan. Buatku, drama-drama ini bukan cuma hiburan, tapi juga semacam pelarian kecil dari rutinitas, tempat aku bisa ikut merasakan hangatnya cinta, getirnya konflik, dan indahnya perjalanan menyembuhkan diri.

Kalau kamu lagi butuh tontonan yang bisa bikin hati hangat tapi tetap ada gregetnya, mungkin salah satu drama di atas bisa jadi teman yang pas. Dan seperti biasa, nonton drama itu soal rasa, setiap orang bisa punya favoritnya masing-masing. Jadi, kira-kira dari semua drama di atas, yang mana duluan nih yang mau kamu masukin ke watchlist? 😉✨

Ketika Perayaan Jadi Pertanyaan

Apa kabar teman-teman hari ini? Lagi libur cuti bersama jugakah? 

Hari ini, 18 Agustus, ditetapkan sebagai cuti bersama dalam rangka ulang tahun negeri tercinta. Semestinya cuti bersama jadi waktu untuk beristirahat, bersyukur, atau bahkan merayakan. Tapi entah kenapa, di kepala saya justru berisik sekali. Banyak hal yang berseliweran, tapi sulit  untuk dirangkai dengan runut.

Mungkin ini karena saya menyimpan terlalu banyak kekecewaan. Tapi bukankah kekecewaan justru lahir dari kepedulian? Karena jika tak lagi peduli, kita tak akan kecewa, kita tak akan marah, tak akan menulis, tak akan bersuara.

Saya ingin sekali merayakan hari besar ini dengan hati yang penuh suka cita, bangga, dan rasa syukur. Namun bagaimana mungkin, ketika hampir setiap hari kita disuguhi kabar-kabar yang membuat dahi berkerut tentang negeri tercinta ini?

Kebebasan berekspresi kian dibatasi. Mengibarkan bendera sebuah anime dicap tidak nasionalis. Padahal, jika saja kita mau jujur, justru mereka yang mengibarkan bendera One Piece itu menunjukkan nasionalisme dengan cara paling jujur.

Mereka tidak sekadar menonton serial anime populer itu. Mereka menyimak dengan seksama, menemukan benang merah antara kisah fiksi dengan kenyataan di negeri ini. Lalu, dengan selembar kain, mereka menyuarakan protes. Tanpa teriakan, tanpa kerusuhan, hanya simbol sederhana.

Itulah nasionalisme dalam bentuk yang mungkin tak lazim, keberanian bersuara dengan cara damai. Sebuah kritik halus yang lahir dari cinta, karena mereka masih peduli pada negeri ini.

Sementara di sisi lain, gaji anggota DPR justru naik di tengah gembar-gembor efisiensi. Saat rakyat dipajaki hingga ke napas mereka sendiri. Saat guru dianggap beban negara, karena mereka menuntut digaji layak. Padahal yang merampas anggaran, yang menggerogoti pajak rakyat, justru mereka yang berkedudukan tinggi. Sementara rakyat bergulat dengan harga sembako makin melambung tinggi, menghantui meja makan setiap keluarga saban hari. Sebuah ironi yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Di balik layar, persoalan tambang terus merusak lingkungan, menelanjangi hutan, mencemari air, dan menyingkirkan masyarakat adat dari tanah leluhur mereka. Dengan dalih pengembangan wisata, masyarakat kehilangan mata pencarian dan tanah ulayatnya. 

Statistik pun tak kalah manipulatif; angka pengangguran dipoles, data kemiskinan direkayasa, hanya agar terlihat indah di laporan resmi. Namun realitas berbicara lain. Banyak yang kehilangan pekerjaan, banyak yang harus pasrah pada PHK, banyak yang menggantungkan hidup pada nasib. 

Rayakan Apa?

Pertanyaan yang terus muncul di kepala saya sangat sederhana: apa yang sebenarnya kita rayakan?

Apakah kita merdeka dari penjajahan asing, namun kini dijajah oleh pemerintah? Apakah kita merdeka hanya di kalender, tetapi terkungkung di kehidupan nyata? Atau kita sebenarnya sedang merayakan ilusi, di mana panggung meriah menutupi kenyataan getir rakyat sehari-hari?

Saya percaya, banyak orang yang merasakan hal sama. Kita ingin merayakan ulang tahun negeri dengan hati lega, tapi bagaimana bisa? Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dikumandangkan, pidato demi pidato disampaikan. Namun setelah itu, kita kembali ke realita, berhadapan dengan harga beras dan sembako, dan masa depan negeri yang semakin buram saja.

Kekecewaan Adalah Cinta

Meski begitu, saya tidak ingin berhenti di rasa marah. Karena marah saja tidak cukup. Di balik semua kekecewaan ini, ada satu hal yang harus saya akui, saya menulis karena saya teramat mencintai negeri ini.

Ya, saya kecewa karena saya peduli. Saya bersuara bukan karena benci, tapi karena tidak rela melihat negeri ini semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan.

Saya yakin, rasa cinta yang jujur pada negeri ini bukanlah dengan selalu setuju pada pemerintah. Justru cinta itu diuji saat kita berani mengkritik, mengingatkan, bahkan menolak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Kalau kita diam, kalau kita ikut berpesta dalam ketidakadilan, bukankah itu artinya cinta kita palsu? Fake love banget nggak sih?!

Cinta pada negeri bukan hanya dengan berdiri tegak di upacara, tapi juga dengan menulis kalimat-kalimat sederhana. Dengan bersuara, sekecil apapun. Dengan menyimpan api harapan, meski kadang terasa percuma.

Saya tahu, banyak orang sudah lelah. Banyak yang memilih untuk pasrah, untuk tidak peduli lagi. Tapi saya percaya, harapan tak boleh padam. Karena negeri ini tidak hanya milik pejabat yang sibuk mengatur kepentingannya sendiri. Negeri ini milik kita semua, rakyat yang setiap hari berjuang untuk melanjutkan hidup.

Mungkin suara kita kecil. Mungkin tulisan kita tak akan sampai ke meja para penguasa. Tapi siapa tahu, dari suara-suara kecil itu lahir gelombang besar yang bisa mengubah arah.

Hari ini, saya memilih untuk tetap menulis. Bukan karena optimis segalanya akan segera berubah, tapi karena ingin meninggalkan jejak kecil bahwa saya pernah peduli, bahwa saya tidak tinggal diam.

Menutup Perayaan dengan Pertanyaan

Jadi, di hari ulang tahun negeri ini, saya memilih untuk tidak berpesta. Tapi memilih untuk bertanya.

Apa yang sebenarnya kita rayakan?

Merdeka dari siapa?

Dijajah oleh apa?

Dan mungkin, inilah cara saya merayakan ulang tahun negeri tercinta ini, bukan dengan pesta meriah, bukan dengan lomba tujuh belasan, tapi dengan kata-kata sederhana. Dengan kalimat yang lahir dari rasa cinta, meski bercampur kecewa.

Antologi Rasa: Tentang cinta diam-diam, dan drama kepala sendiri


Biodata Buku

Judul                                : Antologi Rasa
Penulis                             : Ika Natassa
Penerbit                           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                   : 2011
Jumlah Halaman            : 280 halaman
ISBN                                : 9789792292714
Genre                               : Fiksi, Romance, Urban Drama

 ---------------------------------------------------------------------------- 

Saya baru selesai baca Antologi Rasa-nya Ika Natassa, iya, novel yang udah terbit dari 2011 itu. Tapi, percaya nggak percaya, rasanya masih ngena banget buat dibaca di 2025. Mungkin karena “rasa”, kapan waktunya dan di mana pun lokasinya akan tetap sama saja sebenarnya.

Tokoh utama kita di sini, Keara, perempuan ambisius, tangguh, dan sukses sebagai banker. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dia handle: perasaannya sendiri. Dia jatuh cinta sama sahabatnya, Ruly, selama empat tahun, melewatkan Haris yang sangat perhatian, Panji si player yang akhirnya sayang, dan banyak daftar nama lainnya. Sayangnya, dia cuma bisa menyaksikan cinta itu tumbuh sendirian. Ruly? Otaknya sudah terisi penuh oleh Denise, sahabat mereka juga.

Buat saya, ini bukan cuma soal cinta bertepuk sebelah tangan. Ini cerita tentang “manusia-manusia” yang punya seseorang di kepala yang nggak bisa dia lepaskan. Yang lebih suka menuliskan kemungkinan dalam batin, daripada menyuarakannya dalam tindakan.

Emosi dalam Dunia Kerja Zaman Now

Yang menarik, setting ceritanya bukan kampus atau SMA, tapi dunia kerja profesional -banker lagi, yang katanya dingin dan sibuk cari cuan. Tapi di balik blazer rapi dan coffee-to-go itu, ada perasaan yang ruwet. Lelah kerja, tapi tetap keukeuh nunggu pesan dari seseorang. Sakit hati, tapi besok pagi tetap on time meeting.

Kita jadi sadar, bahkan orang-orang “sukses” pun bisa rapuh. Bahkan di era sekarang, dunia kerja masih jadi tempat yang penuh emotional labor. Kita dituntut perform, sambil berjuang menata emosi sendiri.

Cinta Diam-Diam dan Perspektif Perempuan Modern

Kalau Keara hidup di zaman sekarang, mungkin dia bakal bikin podcast tentang self-love dan red flag. Tapi yang bikin Saya simpati, Keara bukan perempuan lemah yang cuma nunggu. Dia tahu dia punya pilihan, bahkan dia udah pacaran sama cowok lain juga. Tapi tetap aja, hatinya balik ke Ruly. Dan itu nggak salah.

Keara mencerminkan banyak perempuan modern hari ini, tahu apa yang mereka mau, tahu apa yang harusnya mereka tinggalkan, tapi masih tertahan di “rasa yang belum selesai”. Bukan karena bodoh, tapi karena... ya, kita juga manusia. Yang ingin dipilih, tanpa harus meminta.

Monolog Batin & Overthinker Era Sekarang

Ika Natassa jago banget nulis monolog batin. Bercerita dari sudut pandang masing-masing tokoh. Dan buat kita yang sering overthinking, bagian ini tuh kayak ngebaca isi kepala sendiri. Kadang kita ketawa, kadang kesel, kadang pengin nyamperin tokohnya dan bilang, “Ya udah bilang aja, nggak sih!”.

Di era sekarang, monolog batin itu banyak contoh nyatanya. Sebagai istri, sebagai ibu, kadang kita kira kita udah kebal sama drama perasaan. Tapi nyatanya, kepala tetap bisa gaduh -bukan karena cinta yang nggak kesampaian, tapi karena rasa-rasa kecil yang kita tahan terus. Misalnya saat anak-anak udah tidur, dan kita duduk sendiri di meja kerja atau di samping tempat tidur mereka, terus mikir: “Apa aku masih punya mimpi pribadi? Atau semuanya udah jadi tentang mereka?”

Overthinking-nya nggak selalu soal orang lain, tapi kadang soal versi diri sendiri yang kayaknya lama nggak kita temui. Dan kayak Keara, kita juga diam, bukan karena nggak tahu harus ngapain, tapi karena nggak ada ruang buat suara itu keluar. Jadi kita simpan baik-baik, dalam bentuk monolog yang cuma bisa kita dengar sendiri.

Cinta di Era BBM vs Era Ghosting

Yang bikin Antologi Rasa terasa “vintage” adalah kemunculan BBM -Blackberry Messenger. Tapi rasa-rasanya, dinamika percintaan di dalamnya masih banget relate. Bedanya, kalau dulu takut centang D ganti R, sekarang takut read tapi nggak reply -atau malah seen dan tarik pesan alias ghosting.

Dan ya, rasanya tetap sakit. Karena ternyata, apa pun medianya, cinta yang nggak tuntas akan selalu terasa sama pedihnya.

Bahasa Inggris yang “Overwhelming” bagi Sebagian Pembaca

Satu hal yang cukup banyak dikomentari (dan Saya juga ngerasain di awal), adalah penggunaan Bahasa Inggris dalam narasi dan dialog yang cukup dominan. Buat pembaca yang belum terbiasa, ini bisa jadi penghalang buat menikmati cerita. Rasanya kayak “diusir halus” dari suasana emosional karena harus mikir: “Ini maksudnya apa, ya?”

Tapi di sisi lain, mungkin ini memang ciri khas Ika Natassa -menggambarkan kelas urban, kosmopolitan, yang kesehariannya campur aduk antara Bahasa Indonesia dan Inggris. Dan kadang penggambaran suasana dan dialog lebih “ngena” kalau pakai bahasa Inggris itu. Kalau kamu tipe pembaca yang santai dan bisa skip-skip sambil memahami konteks, mungkin ini bukan masalah besar. Tapi kalau kamu pembaca yang butuh meresapi setiap kalimat, kamu akan merasa sedikit kehilangan rasa karena terlalu banyak terjemahan yang harus dilakukan.

Akhir kata, buat saya Antologi Rasa bukan novel romance biasa. Antologi Rasa adalah novel tentang diam yang berisik. Tentang perasaan yang dipelihara di kepala, dan keberanian yang tak pernah muncul di lisan. Mungkin kamu akan marah ke tokohnya, mungkin kamu akan frustrasi, tapi mungkin juga kamu akan melihat sedikit dirimu di sana.

Dan seperti Keara, mungkin kita semua sedang belajar menerima satu hal: bahwa tidak semua rasa harus memiliki ujung, tapi semua rasa pantas untuk diakui.

.....

SETENGAH TAHUN, SETENGAH JALAN

Refleksi Tengah Tahun Seorang Ibu, Dosen, dan Perempuan Biasa yang Masih Belajar

Hy, everyone, welcome to July.

Rasanya baru kemarin ya, kita merayakan euforia tahun baru, sibuk bikin resolusi awal tahun, dan nulis quote harapan-harapan manis di awal Januari. Dan tiba-tiba, taraaa.... setengah tahun sudah kelar aja. Saat kita sibuk “bertahan hidup”, waktu ternyata nggak cuma bergulir, tapi melesat cepat. 

Ibaratnya kita naik sepeda melewati turunan, kita fokus menyeimbangkan diri, menjaga agar nggak jatuh, sampai lupa menikmati pemandangan sekitar. Dan Juli, datang sebagai alarm. “Sudah setengah jalan, mau lanjut kemana?”.

Kalau ditanya, “Apa yang sudah terjadi di paruh pertama tahun ini?” Jawaban saya mungkin tidak akan penuh prestasi besar atau pencapaian luar biasa. Tapi banyak hal yang tetap patut dirayakan dan disyukuri.

Sebagai ibu, ada momen-momen sederhana yang membuat hati hangat. Melihat anak tertawa lepas saat bermain, mendengar ia bertanya hal-hal kecil yang membuat saya berpikir dua kali untuk menjawabnya. Momen remeh yang kadang terlewat, tapi ternyata membuat jiwa saya penuh pelan-pelan.

Sebagai dosen, saya belajar banyak dari mahasiswa sendiri. Dari antusiasme mereka di kelas microteaching, dari hangatnya diskusi dan refleksi di kelas kompetensi guru PAI, dari pandangan mereka tentang kurikulum negara ini di kelas Pengembangan kurikulum. Mereka "memaksa" saya untuk lebih banyak membaca, lebih banyak belajar.

Sebagai perempuan, sebagai Mita, saya melewati hari-hari naik turun emosi, mengatur waktu antara pekerjaan, rumah, dan... diri sendiri. Ada hari-hari di mana saya merasa cukup kuat untuk menaklukkan dunia, dan ada juga hari di mana mencuci piring saja terasa berat. Ada hari-hari saat saya sehat dan stamina saya sanggup mengerjakan banyak pekerjaan rumah dalam satu waktu, ada saatnya saya hanya bisa terbaring tak bisa apa-apa karena asam lambung atau sakit kepala. Tapi semua itu tetap bagian dari hidup saya yang terus berjalan.

Di tengah semua itu, ada juga hal-hal yang belum tercapai. Target menulis blog rutin, misalnya. Atau proyek-proyek kreatif yang masih tersimpan di draft. Tapi semakin ke sini, saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Karena ternyata, menjadi manusia bukanlah tentang selalu berhasil, tapi tentang selalu mencoba.

Pelajaran yang saya petik

Setengah tahun ini mengajarkan saya bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang kita capai, tapi bagaimana kita hadir penuh dalam setiap langkah yang kita jalani.

Saya juga berdamai dan membuat kesepakatan dengan diri sendiri. Tidak membiarkan diri dan pikiran saya dipenuhi penyesalan tentang masa lalu, tidak mau digundahkan oleh masa depan yang belum saya tahu. Saya membawa diri saya untuk “hadir” di masa sekarang. Fokus pada apa yang ada di depan mata. Fokus untuk menikmati hal-hal baik yang terjadi saat ini.

Menikamati ngobrol random ngalor-ngidul dengan suami, menikmati mengusap kepala dan pillow talk dengan anak kami menjelang tidur, menikmati slow morning dengan menggaruk punggung, memeluk dan menciumnya saat bangun tidur. Menikmati segarnya mandi pagi, hangatnya teh dan roti, ngefansgirl, nonton drakor dan drachin. Menikmati sorot mata anak kami yang berbinar saat ia bercerita tentang game-game yang sedang dimainkan, juga menikmati tawa-tawa receh kami di sebuah kafe di sore hari. Saya ingin menikmati masa sekarang seolah dunia tak perlu tergesa. Menikmati setiap momen kecil, yang justru menjelma jadi kebahagiaan paling utuh.

Saya belajar bahwa istirahat itu bukan bentuk kemunduran, tapi bagian penting dari proses bertumbuh. Saya belajar bahwa membiarkan sesuatu selesai dengan perlahan tidak membuat kita lemah, justru menguatkan. Karena butuh keberanian untuk menolak tekanan dari standar yang seringkali bukan kita yang menciptakannya.

Saya juga belajar bahwa menjadi produktif tidak selalu berarti menghasilkan banyak. Tapi lebih kepada: apakah yang saya lakukan hari ini bermakna? Apakah itu membuat saya lebih baik, lebih tenang, lebih ikhlas?

Dan pelajaran terbesarnya mungkin adalah: menerima. Menerima bahwa saya punya batas. Menerima bahwa tidak semua hal bisa saya kendalikan. Dan di titik itu, saya belajar berserah dengan cara yang sehat, bukan pasrah, tapi tetap bergerak walau pelan.

Harapan untuk 6 Bulan ke Depan

Kalau boleh minta, saya ingin enam bulan ke depan terasa lebih ringan.

Bukan karena bebannya berkurang, tapi karena hati saya lebih lapang.

Bukan karena waktu tiba-tiba jadi longgar, tapi karena saya lebih mampu memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditunda.

Saya ingin lebih hadir. Dalam setiap tawa anak saya. Dalam setiap sesi kuliah yang saya ampu. Dalam setiap tulisan yang saya tulis.

Saya juga ingin menepati janji pada diri sendiri. Untuk tetap menulis, bukan demi angka pembaca atau pageviews, tapi demi kewarasan batin. Karena nulis itu memang healing terbaik saya. Setiap kata adalah cara untuk berdamai dengan isi kepala yang ramai.

Dan tentu saja, saya ingin tetap jadi versi terbaik diri saya. Yang bisa menangis saat lelah, tapi juga bisa tersenyum esok harinya dan kembali bersemangat.

Kadang saya merasa neuron-neuron di kepala saya seperti simpang siur, berlomba memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Ada saat-saat saya merasa usia 36 ini sudah cukup tua -terlambat untuk mengejar banyak hal, terlambat untuk memulai sesuatu. Tapi di waktu yang lain, hati saya berbisik: forever we are young. Usia 36 bukan tua, apalagi terlambat. Itu justru masa ketika kita mulai benar-benar mengenal diri sendiri: apa yang kita suka, apa yang bikin kita gemetar excited, dan apa yang layak kita perjuangkan.

Saya masih bisa bergembira saat menonton anime kesukaan, masih bisa tertawa dan fangirling seperti remaja, masih gemetar tiap kali membayangkan impian untuk kuliah S3, masih ingin belajar bahasa Inggris, Korea, bahkan Mandarin. Kadang saya merasa aneh dengan diri saya sendiri. Tapi pelan-pelan saya belajar menerima bahwa mungkin...saya bukan sedang bingung, saya hanya sedang mekar -di banyak arah, di waktu yang bersamaan. Dan itu tak apa. Karena menjadi dewasa tidak harus berarti kehilangan sisi anak-anak yang penuh harap. Mungkin, ini yang disebut “hidup sepenuhnya”.

Kalau kamu juga pernah merasa otakmu riuh, itu karena ada banyak cahaya di sana. Banyak keinginan, banyak ide, banyak gairah. Saya ingin mengatakan pada diri saya sendiri, “You’re not lost, Mita. You’re just blooming in all directions at once.”

----------------------

Dan setengah tahun sudah lewat. Tidak apa-apa kalau belum semua tercapai. Tidak apa-apa kalau ada hari-hari yang terasa gagal. Yang penting kita tidak berhenti.

Hidup bukan perlombaan cepat-cepatan. Kadang kita hanya perlu melangkah pelan, tapi konsisten. Kadang kita butuh duduk sebentar, menarik napas dalam, sebelum lanjut lagi.

Juli ini, saya ingin mengajak teman-teman juga untuk refleksi kecil. Apa kabar kamu sejauh ini? Sudah cukupkah kamu memeluk dirimu sendiri?

Dan jika ada satu hal yang bisa kita sepakati hari ini, mungkin ini:

Setengah jalan sudah dilewati. Sisanya akan kita hadapi bersama, dengan semangat baru, dengan harapan baru, dan dengan lebih banyak kasih untuk diri sendiri.

Terima kasih sudah membaca.

Kalau kamu, bagaimana perjalananmu di enam bulan pertama 2025 ini?

SANDIWARA BESAR BERNAMA NEGARA

Sebelumnya, saya jaraang menulis atau bercerita tentang politik di blog saya. Bukan, bukan karena saya menganggap politik tak layak untuk di...