THE TRAUMA CODE: HEROES ON CALL Drama Medis yang Mengetuk Hati dan Memacu Adrenalin

Instagram : netflixid
Minggu ini sedang seru-serunya ngomongin drama korea yang satu ini. Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan musibah-musibah yang tak terduga, drama yang tayang di Netflix ini menyajikan pandangan yang bermakna dan mendalam tentang hal yang kadang luput dari fokus kita, penanganan trauma. Bagi “alumni” Doldam, drakor Dr. Romantic, yang sudah khatam season 1 sampai season 3, fasilitas trauma center pasti sudah kebayang gambarannya. Pusat layanan trauma itu sendiri adalah fasilitas yang menyediakan perawatan khusus di luar cakupan perawatan IGD bagi pasien dengan trauma fatal.

Ya, meski bukan drakor pertama yang bercerita tentang pusat penanganan trauma, tapi drama ini sukses mengambil hati penonton dengan alur yang memikat, menarik juga menyentuh. Alurnya yang menyajikan beberapa genre seperti komedi dan aksi menjadikan drama ini semakin menghipnotis untuk lanjut menonton episode demi episode.

Tak hanya memacu adrenalin saat menyaksikan adegan-adegan heroik si dokter jenius Baek Kang Hyuk dan bromance-nya dr. Yang Jae Won saat menghadapi kasus-kasus kritis, nurani kita juga disentuh dengan melihat lebih dalam perasaan, pengorbanan, dan keberanian yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa di tengah situasi paling menegangkan.

Yuk kita spoiler dikit, biar kamu punya banyak alasan kenapa drakor The Trauma Code : Heroes On Call ini worth it untuk kamu tonton.

Hadirnya si Dokter ugal-ugalan

Buruknya penanganan pasien trauma fatal di rumah sakit ternama di Seoul, menyebabkan 13 orang meninggal dunia tahun itu karena tidak mendapat penanganan darurat yang memadai dari pusat penanganan trauma. Hal itu menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat Seoul. Kegelisahan tersebut membuat masyarakat meminta langkah yang konkrit dari pemerintah khususnya kementerian kesehatan.

Hal ini memicu kemarahan ibu mentri kesehatan ketika rapat bersama para kepala Rumah Sakit ternama di Seoul. Dana 10 milyar won yang sudah digelontorkan kementerian pada Rumah Sakit Universitas Hankuk hanya berbuah fasilitas yang berupa formalitas saja, tidak berfungsi dan terabaikan.

Instagram : netflixid

Dalam situasi ini, ibu mentri akhirnya memulangkan seorang dokter “trantrum” dari tempat kerja sukarelanya di Sudan. Joo Ji Hoon yang berperan sebagai Baek Kang Hyuk, ahli traumatologi dengan kepribadian keras kepala namun jenius, pulang disambut pasien trauma yang mengharuskannya langsung masuk ruang operasi dan terlambat ke pertemuan penyambutannya. Di episode ini lah ia bertemu dengan si “anus” doktor spesialis kolorektal, Yang Jae Won, yang kemudian menjadi "budak nomor 1" dan kepala perawat cantik, Cheon Jang Mi si “Gangster” yang kemudian hari menjadi "budak nomor 2". Lalu siapa "budak nomor 3?", nanti kamu bakal tau juga..Wkwkkwk. 😂

Kelahiran Murid Pertama

Pertemuan dr. Baek dengan dr. Yang membuat koneksi tersendiri antara mereka. Si cerdas mahasiswa terbaik dan penerima beasiswa penuh Fakultas kedokteran Universitas Hankuk itu dipinang menjadi murid pertama oleh dr. Baek. Tentu saja Jae won galau memilih antara tetap menjadi murid “pak kabag” yang punya banyak sertifikat dan predikat atau beralih menjadi murid dokter trantrum yang punya segudang pengalaman.

Instagram : netflix
Terus Berjuang

Meski sudah menjadi “zombie” saking lelahnya menghandle trauma center berdua sama dokter Baek, Jae won tetap bertekad untuk terus “berlari”. Puncaknya, terjadi kecelakaan beruntun di sebuah terowongan, kakak adik yang sedang dalam perjalanan untuk menemui ayah mereka yang sedang sekarat di Rumah sakit menjadi korbannya. Kakak adik yang terluka parah itu akhirnya menerima tranplantasi organ masing-masih dari ayah mereka.

Instagram : netflixid

Terjadi pada siapa saja

Yap, namanya musibah bisa saja terjadi pada siapa saja.  Qodarullah kali ini menimpa putri kesayangan dr. Han Yoo Rim yang sedang berseteru dengan dr. Baek Kang Hyuk. Dokter Han yang sedang diatas angin pada rapat kepala-kepala bagian Rumah Sakit, mencerca habis-habisan dr. Baek karena defisit anggaran pusat trauma saat dering HPnya berbunyi mengabarkan Han Ji young, putrinya, mengalami kecelakaan fatal dan harus segera ditangani di pusat penanganan trauma. 

Instagram : netflixid

Kode Hitam

Sebuah kecelakaan besar terjadi di sebuah jembatan yang menelan korban ratusan orang di atas maupun di bawah jembatan. dr. Baek Kang Hyuk langsung ke TKP dan nge-triage korban sesuai kode merah, kuning, hijau dan hitam. Di tengah hiruk pikuk inilah Jae won dipercaya untuk melakukan operasi pertamanya. Dalam episode ini juga dijelaskan bahwa tiga pasien dengan cedera parah akhirnya berhasil diselamatkan berkat bantuan cepat si dokter jenius, Baek Kang Hyuk.

Instagram : netflixid

Alasan untuk tidak menyerah

Meski politik kotor Rumah sakit tetap berlanjut, dr. Baek tetap fokus menangani pasien di pusat trauma. Hal ini akhirnya juga menginspirasi dr. Yang Jae Won untuk menemukan alasan untuk tidak menyerah membantu pasien. “itu karena kalian bisa. Karena kalian bisa, jadi kenapa tidak!. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu. Dahulu, “kenapa aku harus kerja sekeras ini, toh tak ada yang sadar”, aku sering berpikir begitu. Tetapi, tujuan kita bukan minta pengakuan, bukan juga minta kompensasi. Apa aku menjadi kepala perawat selama lima tahun di pusat trauma karena aku pahlawan super? Karena harus kulakukan. Harus ada yang melakukannya, dan kebetulan aku orangnya. Dan sialnya, kau juga orangnya”, ujar kepala perawat Cheon Jang Mi suatu ketika pada Jae won.

SOS dari Sudan Selatan

Anggota unit Hanbit di Sudan Selatan terjebak baku tembak. Sebelas anggota asosiasi medis yang melakukan kegiatan bantuan dan medis hampir diculik oleh kelompok bersenjata. Namun prajurit uni Hanbit sekaligus anggota militer PBB, yang sedang melakukan rekonstruksi jalan di sana, melakukan operasi penyelamatan. Namun dalam prosesnya, Kapten Lee Hyeon Jong dari uni Hanbit terluka tembak dan dikabarkan kritis. Menteri Kesehatan menelepon dr. Baek untuk membawa timnya menyelamatkan Kapten Lee Hyeon Jong. Dan seperti yang kalian tebak, dr. Baek berangkat bersama 3 “budak”nya :D. Budak Nomor 1, budak nomor dua, dan dr. Park si dokter anestesi.

Pasien: Baek Kang Hyuk

Saat kembali dari Sudan Selatan dengan selamat, sebuah kebakaran besar terjadi. dr. Baek langsung menuju lokasi. Malangnya, di gedung yang kebakaran ada sebuah unit yang menjual gas medis. Ditengah kebakaran terjadi ledakan besar yang membuat dokter spesialis trauma ini harus dilarikan ke tempat kerjanya sebagai pasien. Nyama dr. Baik ada ditangan muridnya. Berhasilkah dokter trantrum ini siuman dan menyumpah “shibal sekiya” kembali?

Secara keseluruhan, drama ini berhasil menggambarkan situasi di pusat trauma dengan realistis. Drama yang diadoptasi dari webtoon Severe Trauma Center: Golden Hour karya Hansaiga ini worth it untuk kamu tonton. Silahkan dilanjut di Netflix ya Yeorobun 😀. Annyeoooong... 

*semua foto dari Instagram : netflixid

RESENSI : VEGETARIAN

Biodata Buku

Judul buku                  : Vegetarian (Novel Pemenang Man Booker International Prize)

Penulis                         : Han Kang

Penerjemah                 : Dwita Rizki

Penerbit terjemahan    : PT. Bentara Aksara Cahaya

Tahun terbit                 : 2021

Tebal buku                  : 221 halaman

Erik “koesang”, ilustrator favorit saya, langsung melintas dibenak saya sepanjang membaca novel 221 halaman ini. Ilustrasi erik sedikit banyaknya membuat saya dapat membayangkan bagaimana Young Hye memandang dirinya dalam keterasingan yang tak kita pahami. Eka kurniawan benar, novel ini bukan perihal vegetarian, tapi kisah tragis yang mencekam yang membuat kita tak mau melepaskan kata demi kata dibuku ini. Saya tidak bisa men-skip bahkan melewati satu dua kata saja dalam buku ini. Meski ”hanya” 221 halaman, percayalah, buku ini seperti spon yang membuatmu ikut meresap kedalamnya.

Adalah Young Hye, seorang wanita muda yang menjalani kehidupan sederhana di tengah hiruk-pikuk Kota Seoul. Namun, kehidupannya yang tampak biasa itu berubah drastis setelah ia dihantui oleh mimpi-mimpi kelam tentang pembantaian hewan. Mimpi-mimpi itu menanamkan kegelisahan mendalam dalam dirinya, hingga ia memutuskan untuk berhenti makan daging, sebuah langkah yang begitu tabu dalam budaya Korea. Keputusannya, yang seolah menjadi bentuk pemberontakan senyap, memicu kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Perubahannya yang tiba-tiba ini membuat suami dan keluarganya ikut campur dan memaksanya untuk ”sadar”. Sang ayah yang sangat keras dan sering memukulnya sejak kecilpun juga mengayunkan tangan menamparnya di depan semua keluarga setelah sebelumnya menjejalkan daging ke mulut perempuan yang tak berdaya itu. Alih-alih mendukung, mereka berusaha memaksakan pandangan mereka, hanya untuk membuat Young Hye semakin menarik diri, tenggelam dalam dunianya yang penuh luka dan perlawanan yang tak terucap. Ya, Young membalasnya dengan pemberontakan. Pemberontakan yang berwujud semakin aneh dan menakutkan. Secara perlahan, ia terjerumus jauh dalam ke dalam dunia fantasinya, berharap bisa sepenuhnya melampaui batasan-batasan kedagingannya.

Dan ada kakak ipar Young Hye, suami ”eonni”nya. Seorang seniman yang tergila-gila dengan tanda lahir biru adik iparnya dan membuat Young Hye menjadi model ”karya”nya. Juga sang kakak, In Hye. Sosok yang paling bersimpati pada sang adik. Meski In Hye juga bergelut dengan depresi dan kesehatan mentalnya sendiri.

Alur cerita dalam novel ini cukup membuat saya “terganggu” dan tergagu. Bagaimana bisa dunia tokoh-tokoh ini digambarkan dengan begitu apik sehingga saya sendiri tercenung dan tidak tau akan berkata apa-apa jika diminta menjelaskannya. Suasana dalam kisah ini seolah tenang, namun mencekam, penuh keputusasaan yang menakutkan dan menghipnotis. Kompas memang benar, bagi penggemar Haruki Murakami, siap-siaplah memiliki idola baru, Han Kang.

Deep Learning: Langkah Baru Pendidikan Menuju Indonesia Emas

 

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, kerap menyebut pendekatan Deep Learning. Dalam berita di Tempo, 31 Desember 2024, beliau menyampaikan bahwa Deep Learning akan diintegrasikan ke dalam Kurikulum Nasional. Pertanyaan yang muncul: Apa itu Deep Learning? Apakah ini kurikulum baru? Atau malah tanda akan adanya perubahan kebijakan lagi? Sebelum kita melompat pada kesimpulan, mari kita ulas lebih mendalam. 

Pada 10 Desember 2024 lalu, Prof. Dr. Din Wahyudin, MA, salah satu mentor saya di Universitas Pendidikan Indonesia, membagikan catatannya dari FGD "Deep Learning" di BSKAP Kemdikdasmen (28-30 November 2024). Diskusi ini ditindaklanjuti dengan webinar oleh HIPKIN dan Prodi Pengembangan Kurikulum UPI pada 30 Desember 2024. Setelah itu, saya sempat berdiskusi dengan Dr. Laksmi Dewi, M.Pd, Kepala Puskurjar, yang menjelaskan bahwa Deep Learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat implementasi kurikulum, dan naskah akademik Deep Learning sedang dalam tahap editing.

Memahami Deep Learning

Dalam file final paparan Deep Learning yang dibagikan oleh Purkurjar, dijelaskan bahwa Pendekatan Deep Learning berfokus pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Tiga elemen ful ini terintegrasi dalam empat aspek pembelajaran: olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik). Hasil akhirnya adalah profil lulusan dengan delapan dimensi esensial, memperkaya 6C dari keterampilan abad 21: Pertama, Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME. Lulusan adalah individu yang memiliki keyakinan yang kuat akan keberadaan Tuhan dan berpegang pada nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Kewargaan. Lulusan adalah individu yang memilki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggung jawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan. Ketiga, Penalaran Kritis. Profil individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah. Keempat, Kreativitas. Menjadi individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat. Kelima, Kolaborasi. Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab. Keenam, Kemandirian. Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain. Ketujuh, Kesehatan Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being). Kedelapan, Komunikasi. Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

Kedelapan profil lulusan ini, dihasilkan dari suasana belajar dan proses pembelajaran yang mindful, meaningful dan joyful (3 Ful). Mindful (Berkesadaran), peserta didik menyadari tujuan belajar, memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri dan aktif mengelola proses belajarnya. Meaningful (Bermakna), pengetahuan dapat diaplikasikan dalam konteks nyata. Joyful (Menggembirakan), suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

Ada Tiga Tahap Pengalaman Belajar yang didapatkan peserta didik melalui pendekatan ini : Pertama, Memahami. Tahap awal peserta didik pengalaman belajar yang dilalui peserta didik adalah aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif (applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge).. Kedua, Mengaplikasi. Menghubungkan teori dengan praktik nyata. Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan (extending knowledge). Ketiga, Merefleksi. Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.

Kerangka Sistem dalam Deep Learning Pendekatan ini dibangun atas empat pilar: Pertama, Praktik Pedagogis, strategi pengajaran yang fokus pada pengalaman autentik. Kedua, Lingkungan Pembelajaran, integrasi ruang fisik, virtual, dan budaya belajar. Ketiga, Pemanfaatan Teknologi Digital, memaksimalkan interaksi dan kolaborasi. Keempat, Kemitraan Pembelajaran, kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan komunitas.

Mewujudkan Ekosistem yang Mendukung

Untuk mencapai hasil optimal, dibutuhkan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, melibatkan semua pemangku kepentingan: pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, serta dunia usaha. Guru pun bertransformasi menjadi Activator, Collaborator, dan Culture Builder. Dengan pendekatan ini, kita dapat menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.

Implementasi pendekatan deep learning pada pembelajaran tentunya butuh banyak tahapan. Sosialisasi kepada semua stakeholder, identifikasi dan pemenuhan kebutuhan sumber daya, uji coba dalam lingkup terbatas, evaluasi hasil dan perbaikan sistem, baru kemudian penerapan Deep Learning secara luas. Dan terakhir perlu dilakukan refleksi dan tindak lanjut untuk perbaikan selanjutnya.

Untuk memastikan keberhasilan implementasi, guru sebagai ujung tombak pembelajaran mustilah ditingkatan kompetensinya. Bagaimana caranya? Pertama, dengan malaksanakan program pelatihan terintegrasi, pendampingan, atau pembimbingan tentang pendekatan deep learning. Kedua, dengan penyelenggaraan program pendidikan profesi guru (PPG) untuk memberikan bekal pendidikan dan pelatihan Deep Learning. Ketiga, menambahkan bimbingan konseling, pendidikan nilai, dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam muatan kurikulum PPG dan pelatihan guru lainnya.

Bagi perguruan tinggi yang mencetak para pendidik, juga perlu perlu dibuat tes seleksi yang terstandar untuk mengukur kemampuan akademik, minat dan bakat calon mahasiswa yang akan menjadi guru. Mahasiswa calon guru diseleksi secara ketat dengan kriteria minat dan kecintaannya serta kemampuan akademik yang dilakukan secara nasional oleh LPTK yang menyelenggarakan PPG. Kementerian juga perlu menggandeng komunitas-komunitas belajar, dan dewan pendidikan.

Deep Learning dalam Perspektif Global

Secara konsep, pendekatan Deep Learning sangat baik dan telah terbukti secara empiris di beberapa negara. Salah satunya adalah Finlandia, yang dikenal dengan sistem pendidikan unggulnya. Finlandia berhasil menerapkan prinsip pembelajaran mendalam melalui integrasi pendekatan lintas disiplin, penekanan pada kolaborasi, serta penggunaan teknologi digital secara optimal. Hasilnya, peserta didik tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan berinovasi yang mumpuni. Hal serupa juga diterapkan di Singapura, di mana Deep Learning membantu siswa membangun koneksi antara teori dan praktik melalui proyek-proyek berbasis masalah.

Sebagai seorang pendidik, saya melihat Deep Learning sebagai pendekatan yang mampu menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Merujuk pada skor PISA 2018, menunjukkan Kemampuan HOTS siswa Indonesia masih rendah. Rendahnya tingkat keterampilan berpikir HOTS (higher order thinking skills) di kalangan siswa mencerminkan rendahnya kualitas pembelajaran yang dijalankan di sekolah-sekolah. Data PISA mencatat bahwa skor perolehan dalam membaca hanya 371, Matematika 379 dan Sains 396. Masih berada di bawah ambang batas 400, setara dengan level 2-3. Siswa Indonesia hanya bisa menjawab materi Level 1-3 saja (lower order thinking skills = LOTS), sementara siswa negara lain sudah sampai Level 4-6 (higher order thinking skills = HOTS). Dan Pendekatan Deep Learning secara konsep berfokus pada higher-order thinking skills (HOTS). Hal ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan kita yang masih membutuhkan perjalanan panjang dapat kita jalani dengan “mengendarai” deep learning ini.

Filosofi Deep Learning

Pendekatan Deep Learning sejatinya sejalan dengan filosofi pendidikan Indonesia, khususnya filosofi K.H. Ahmad Dahlan dan filosofi Ki Hajar Dewantara. Pendidikan mustilah berlandaskan tujuan hidup, membentuk manusia yang tidak sombong, gigih belajar, dan tuntas berkarya. Membentuk anak bangsa yang dapat mengoptimalkan akal untuk kebenaran sejati, berani menegakkan kebenaran, berbuat untuk kemanusiaan, mengamalkan ilmu agama dengan kualitas tinggi dan menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan sosial menuju masyarakat berkemajuan. Filosofi ini juga menggemakan prinsip pendidikan holistik, di mana pembelajaran tidak hanya mengembangkan intelektual, tetapi juga etika, estetika, dan fisik secara terpadu. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menghidupkan kembali semangat "sistem among" yang mengutamakan asah, asih, dan asuh dalam proses pendidikan.

Konsep ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada hasil akademik, tetapi juga membebaskan peserta didik untuk mengeksplorasi potensi diri mereka secara maksimal. Dalam pendekatan Deep Learning, peserta didik diajak untuk tidak sekadar memahami materi, tetapi juga memaknainya dalam konteks nyata dan relevan dengan kehidupan mereka.

Mendukung Indonesia Emas 2045

Dalam konteks Indonesia, implementasi Deep Learning sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul. Dengan memanfaatkan pendekatan ini, Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Profil lulusan berbasis delapan dimensi esensial dari Deep Learning akan memperkuat daya saing bangsa di tengah perubahan global yang cepat. Dengan ekosistem pembelajaran yang didukung teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kita optimis visi Indonesia Emas dapat terwujud.

Pendekatan Deep Learning ibarat jembatan menuju impian besar kita: menciptakan generasi yang tidak hanya unggul di atas kertas, tapi juga tangguh menghadapi dunia nyata. Dengan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi manusia seutuhnya, -mereka yang berpikir kritis, kreatif, penuh empati, dan siap menghadapi tantangan global.

Pendidikan adalah "labor" mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Di tangan generasi mendatang, tersimpan harapan kita untuk melihat Indonesia menjadi bangsa yang tak hanya maju, tetapi juga bermartabat di panggung dunia. Dan Dengan Deep Learning, Indonesia dapat melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045 dengan optimisme dan percaya diri.

Milkcheese Strawberry: Manis, Creamy, dan Bikin Nagih!

Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda. Selain ibadah yang lebih khusyuk, momen berbuka puasa juga jadi saat yang paling dinanti...