Sudah masuk Episode kedua Bulan Ramadhan.
Dalam setiap fasenya, Ramadhan selalu punya cara untuk membawa kita kembali ke
dalam diri sendiri. Bulan ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi
juga tentang merawat hati, menenangkan pikiran, dan menemukan makna di setiap
detik yang berjalan.
Di tengah kesibukan sehari-hari,
Ramadhan datang seperti jeda yang menenangkan. Ada sesuatu yang berbeda dalam
ritmenya, lebih pelan, lebih dalam, dan lebih reflektif. Puasa tidak hanya
membersihkan tubuh, tetapi juga memberi kesempatan bagi jiwa untuk
beristirahat. Saat perut kosong, hati terasa lebih peka. Ketika kita mengurangi
distraksi duniawi, ada lebih banyak ruang untuk merenung.
Healing bukan selalu tentang
bepergian ke tempat-tempat indah atau melakukan self-care dengan cara-cara
kekinian. Healing juga bisa terjadi dalam keheningan sahur, dalam sholat malam
yang khusyuk, atau dalam dzikir yang mengalir pelan di antara detik-detik
menjelang berbuka. Dan tentu saja, juga dalam tulisan-tulisan yang kita buat
sebagai bentuk refleksi diri.
Menulis sering kali jadi cara
terbaik untuk berdialog dan mengenal diri sendiri. Jika membaca mengasah otak,
maka menulis adalah jalan bagi jiwa kita untuk menemukan bentuknya sendiri.
Tulisan yang kita buat adalah peta perjalanan, karena di sanalah kita menemukan
siapa diri kita. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita katakan dengan suara,
tetapi bisa kita bisikan lewat tulisan. Menulis membukakan pintu ke dalam diri
kita sendiri. Menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi tentang merawat
ingatan. Menulis bukan soal menjadi hebat, tapi tentang menjadi jujur. Dan Ramadhan,
dengan segala ketenangannya, menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan
menuliskan apa yang kita rasakan.
Menulis tak hanya tentang membuat
narasi ratusan kata. Kita bisa saja menulis tentang tentang rasa syukur yang
selama ini jarang disadari, tentang harapan yang ingin dipanjatkan, atau
sekadar mencatat dan menceklis perubahan kecil dalam diri kita lewat jurnal
Ramadhan yang kita print. Tantangannya, tentu saja, adalah menjaga konsistensi.
Di tengah jadwal yang berubah selama Ramadhan, menyisihkan waktu untuk menulis
bisa jadi terasa sulit. Tapi sebenarnya, justru dalam keterbatasan itulah
tulisan bisa menjadi lebih jujur dan penuh makna. Tidak perlu sempurna, yang
penting ada.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah
perjalanan yang sangat personal. Setiap orang punya cara sendiri untuk
mengisinya, tapi jika ada satu hal yang bisa membuatnya lebih bermakna, mungkin
itu adalah menulis. Dengan menulis, kita bisa merekam perasaan, mencatat
doa-doa yang terucap dalam hati, dan menemukan perubahan diri sekecil apa pun.
Jadi, bagaimana kalau tahun ini
kita coba menulis lebih banyak selama Ramadhan? Tidak perlu muluk-muluk. Cukup
selembar catatan kecil setiap hari. Sebuah jurnal yang mungkin suatu hari akan
kita baca kembali, lalu tersenyum, dan berkata, "Ramadhan tahun ini berlalu
dengan indah, dan saya pernah merasakannya dengan sepenuh hati."
No comments:
Post a Comment